chapter 27 : i'm in love with Bagaskara

270 49 1
                                        

Padahal kemarin Jingga rasa semuanya hancur dan tak punya harapan. Tapi perkiraannya salah, semua ternyata masih berjalan dengan baik-baik saja. Jingga jadi ingat nasihat lain dari ibu nya dulu Bahwa dalam hidup, tangis dan tawa memang selayaknya datang dengan silih berganti.

Menyesal ambil keputusan salah dan banyak berburuk sangka, sepenuhnya Jingga menyalahkan diri sendiri karena ambil keputusan tanpa mendengar kejelasan. Tadi pagi Bagas sudah jelaskan semuanya. Makan malam itu Bagas tidak hanya berdua, juga bukan makan malam menyenangkan melainkan makan malam dengan usaha keras setelah seharian hanya mengisi perut dengan biskuit atau makanan kecil lain sebagai pengganjal perut. Sesibuk itu seorang Bagas. Dan perihal wanita yang kepadanya Bagas ceritakan kesehariannya ditelpon adalah salah satu dari banyaknya teman dekat yang tidak lebih hanya seorang teman.

Bagas juga bertanya kenapa, bukankah biasanya Jingga acuh bahkan ijinkan Bagas berteman dengan siapapun? Setau Bagas, Jingga yang dia kenal bukan wanita pengekang. Jingga adalah wanita dengan wawasan luas yang tidak pernah takut ditinggal.

Beruntung Jingga sempat curhat dan mendengar cerita dari Mina, sampai kalimat, "yang namanya hubungan laki-laki sama perempuan itu enggak ada yang 100 persen cuma berteman, entah salah satunya ngarep, atau ternyata nanti lama lama ngarep, atau entar jadi, itu enggak ada yang namanya 100 persen. Atau udah pernah ada rasa terus ilang enggak ada yang namanya itu pertemanan persahabatan dari dua belah pihak bener bener ngerasa itu persahabatan, "

Akhirnya kalimat panjang itu Jingga jadikan alasan yang lumayan logis. Sebab entah kenapa bibir Jingga rasanya ragu untuk menjelaskan bahwa kehamilannya lah yang membuat dia lebih sensitif. Ditambah dengan pendapatnya sendiri tentang,"Ini bukan masalah posesif atau apa tapi prioritasnya. Gue enggak di kasih tau alasannya, makanya ngerasa aneh aja waktu tau Lo lebih milih cewek lain dari pada istri sendiri. Wajarkan kalau Gue mulai menyimpulkan prioritas Lo? Gue bahkan enggak pernah diijinin liat handphone Lo. "

Bersyukur Bagas tidak membahas lebih jauh, dia ada di samping Jingga. Tenangkan Jingga dengan ucapkan banyak kata positif sambil rangkul dan usap lembut tangannya. Dan lagi tentang ponsel Bagas tunjukkan satu hal. Bagaimana bisa Jingga tidak sadar Bagas menyimpan banyak photo candid dirinya yang dia ambil secara diam-diam.

"Ya malu kalau ketauan bucin."cicit Bagas yang buat Jingga tidak bisa menahan tawa di tengah matanya yang masih berkaca-kaca.

Semua masalahnya sudah selesai, mereka sudah temukan solusinya juga. Kedepannya Bagas berjanji akan jadikan Jingga yang pertama tau tentang kegiatannya. Tak akan biarkan Jingga salah paham, tak mau buat Jingga pergi lagi. Tengkar itu benar-benar tak pernah diinginkan keduanya. Rasanya melelahkan.

"Nanti aku bakal berusaha ajak kamu bicara, kita saling terbuka ya. Berusaha saling paham. "

Semua kalimat manis Bagas, Jingga rekam di pikirannya. Sehingga dia bisa jalani hari seperti biasa, kembali dengan senyum.

Ada satu lagi, tentang mudah nya orang lain panggil Bagas dengan sebutan 'mas' padahal Jingga yang punya ikatan masih pakai lo-gue.

"Jadi Lo mau di panggil apa? "

Jingga tidak langsung jawab, berpikir panjang sebab tak terlintas panggilan apapun yang ingin dia dengar selain Mami. Tapi kan kedua anaknya belum lahir, umur Jingga dan Bagas yang sama membuat Jingga merasa jadi tante-tante kalau sekarang Bagas panggil begitu.

"Dek, mau di panggil adek? "

"Enggak ah, kita seumuran."tolak Jingga segera.

"Bunda atau Bubun. "

"Kedengeran alay, anak SD lagi musim panggilan nya begitu."

"Terus apa? "

"Aku kamu dulu aja, kalau panggilan sayang belum nemu. " jawab Jingga polos, dibalas tawa merekah Bagas.

Mereka berangkat bekerja seperti biasanya, yang berbeda adalah Jingga bisa lalui hari dengan perasaan lebih ringan.

Sore hari, selesai dengan tugas di rumah sakit Jingga langsung pulang. Setelah membersihkan diri Jingga memilih siapkan makan malam baru selesai itu bisa bersantai.

Suasana rumah yang sepi dukung Jingga untuk pikirkan banyak hal. Mengingat perjuangan Bagas membuat mata Jingga berair. Ketika hari sudah malam, suaminya itu bahkan belum pulang karena banyak pekerjaan.

Tapi malam ini bukan diisi dengan prasangka, melainkan rasa rindu. Jingga merasa bersalah karena belum juga beritahu kabar bahagia tentang kehadiran calon anak mereka.

Pada akhirnya Jingga memilih ambil kertas surat yang selama ini dia simpan rapi, surat dari Bagas yang sebelumnya tidak pernah berniat dia balas. Mungkin malam ini Jingga merubah keputusannya.

Baca surat itu berulang buat Jingga makin sadar tentang rasa Bagas. Tak ada alasan untuk Jingga ragu. Dan bukan hanya rasa Bagas, Jingga yakin dengan hatinya. Hati Jingga juga sudah benar-benar jatuh pada Bagas.

Takdir itu lucu, semua yang terjadi diawal tahun sampai sekarang benar-benar kejutan bagi Jingga.

Mulai dari semuanya masih berjalan seperti biasa mereka hanya sepasang sahabat, Bagas yang tiba-tiba melamarnya, persiapan pesta yang singkat, hari pernikahan, kabar kehadiran calon anaknya, pertengkaran, kemudian berbaikan.

Jingga ambil pulpennya, coba rangkai banyak kata jadi kalimat indah kemudian menyusunnya sampai menjadi beberapa paragraf.

Bagas juga berhak tau isi hari Jingga. Sudah seharusnya dia menerima balasan dari pengakuannya.

Setidaknya pertengkaran kemarin tidak membuat Jingga sepenuhnya menganggap itu buruk, melainkan ada pelajaran di dalamnya.

Dari peristiwa ini mereka sama-sama belajar, kalau bertengkar lebih baik di selesikan baik-baik dirumah, berdua. Tau orang tua masing-masing akan jadi rumit ceritanya.

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang