chapter 26 : Takut hilang

236 57 12
                                        

"Na, kalau misalkan suami kamu udah bekerja keras, tapi dia ketauan lebih milih makan malem sama orang lain daripada makan masakan yang udah kamu siapin. Kamu bakal ngerasa sedih enggak? "tanya Jingga setelah seharian bergelut dengan pikirannya.

"Ya marah lah, gila aja. "

"Terus kamu bakal ngapain?"tanya Jingga lagi.

"Aku gampar, berani-beraninya."

"Kok kamu tega?"

"Gini Nga, kalo kata istrinya Rafi ahmad si Nagita Slavina, eh bukan kata Nagitanya tapi kata Nagita itu kata mantan pacarnya. "

"Mantan pacar siapa? "

"Nagita slavina. "

Jingga mendelik, "Udah lah ribet, langsung kata-katanya aja apa. "

"Gini, yang namanya hubungan laki-laki sama perempuan itu enggak ada yang 100 persen cuma berteman, entah salah satunya ngarep, atau ternyata nanti lama lama ngarep, atau entar jadi, itu enggak ada yang namanya 100 persen. Atau udah pernah ada rasa terus ilang enggak ada yang namanya itu pertemanan persahabatan dari dua belah pihak bener bener ngerasa itu persahabatan, " Jeda sebentar. "Sampai situ jelaskan? Ini bukan masalah temen atau apa tapi prioritasnya. Udah enggak bener kalau dia lebih milih cewek lain dari pada istri sendiri."

Jingga diam, berharap dengan bertanya dia dapat pencerahan, tapi yang dia dapat malah membuat pikirannya semakin rumit. Apa dia salah nanya? Ujung-ujungnya malah makin over thinking.

Dan Mina sadar akan perubahan sikap sahabatnya,"Tapi Nga, kenapa nanya gitu? Si Bagas mulai main-main? "

Jingga menggeleng, namun pada akhirnya Mina berhasil membuat Jingga bercerita semuanya.

"Lo bilang pas ditelpon rame, ada kemungkinan mereka enggak makan berdua kan? "

"Iya, tapi... "

"Lo enggak akan tau apa yang benar-benar terjadi kalau enggak nanya sama orangnya langsung Nga, selesaikan baik-baik ya, kalau si Bagas macem-macem gue bantu hajar. Tapi sorry buat sekarang gue harus balik duluan. "

Jingga mengangguk, biarkan Mina pergi. Tapi meskipun tugasnya untuk hari ini sudah selesai, dia belum mau pulang, belum siap bertemu Bagas.

"Jingga, belum pulang? "sapa Dokter Fahmi yang hendak masuk mobilnya, jadi sejak tadi Jingga mengobrol dengan Mina di tempat parkir.

Sebelum menjawab Jingga beri senyum, "belum kak, baru selesai ngobrol sama Mina tadi. "

"Kok keliatan murung, kamu baik-baik aja kan?"tanya Fahmi peduli, memilih urungkan niat masuk mobil kemudian hampiri Jingga.

Tapi dengan seorang pria, selama apapun dia mengenal, Jingga tidak sedekat itu untuk bicara masalah pribadinya.

"Enggak papa kok, ini mau pulang. "

"Jingga, jangan sedih-sedih ya."

Jingga tersentak, melebarkan mata tak menyangka, Fahmi sudah berdiri di depannya ulurkan sebatang coklat. Ingin menolak, tapi tidak enak.

Mata Jingga tatap keliling parkiran rumah sakit. Apa yang dia khawatir kan? Takut Bagas ada dan melihatnya.

"Makasih kak, " ucap Jingga canggung, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya. Yang Jingga khawatirkan terjadi, Bagas ada tidak jauh disana. Berdiri sambil menatap ke arahnya tajam.

Kesalah pahaman kemarin belum selesai, sekarang sudah ada lagi.

Jingga tidak langsung jalankan mobilnya, melainkan terisak pelan disana. Takut Bagas lakukan apa yang Jingga lakukan kemarin. Tersulut emosi, tanpa bertanya langsung ambil keputusan. Jingga pikir dia salah menerima pemberian dari pria lain, pria yang mengaku mencintainya dan menunggu. Harusnya Jingga tolak.

Agak lama waktu, mobil milik Fahmi sudah dibawa jauh pemiliknya. Jingga yang masih sibuk dengan isaknya mendengar kaca mobil di ketuk.

"Buka dong, gue kesini pake gojek, sengaja mau nyetirin. "

Jingga buka pintu mobilnya, tutupi wajah yang sudah mulai sembab. "Loh kok nangis, kenapa lo?" tanya Bagas dengan senyum jahilnya.

Jingga belum jawab memilih begeser duduk di kursi samping kemudi dengan Bagas masuk mobil lalu duduk ditempatnya tadi.

Mobil di jalankan, sebab Bagas tidak mau lama-lama seperti ini. Dia ingin bicara dirumah saja.

"Kenapa nangis, kok sedih. Kan udah ada yang ngasih coklat. Dimakan dong coklatnya. "ucap Bagas lagi, Jingga yang sudah berhenti dengan isaknya masih belum mau menjawab.

"Mau makan dulu atau mampir ke tempat lain? Atau mau pulang?"

"Pulang." jawab Jingga segera. Bagas tersenyum sebab keinginan dirinya dan Jingga ternyata sama.

Sampai dirumah Jingga melakukan rutinitasnya seperti biasa, sedangkan setelah selesai bersih-bersih dan pergi ke dapur untuk memasak, ternyata Bagas sudah lebih dulu siapkan makan malam untuk berdua.

"Mungkin rasanya enggak seenak masakan lo, tapi dimakan ya. Rasanya enggak terlalu buruk kok, beneran layak makan. "

Jingga mengangguk dan mulai memakannya dalam diam. Suap demi suap Jingga nikmati sampai habis. Ketika ingin mencuci bekas makannya, Bagas segera mengambil alih. "Gue aja, sana mending lo skincare-an. "

Jingga lagi-lagi menurut tanpa banyak bicara, pergi ke kamar dan duduk di depan meja rias. Bagas lebih dulu selesai, naik ke tempat tidur dengan kaki diluruskan dan badan bersandar.

"Sini naik,"

Jingga menurut, tepat disamping Bagas yang rentangkan tangannya. Kali ini tak menolak dipeluk, kepala Jingga bersandar pada bahu kiri Bagas.

Hening...

"Gas, Lo enggak nanya cowok tadi siapa?" tanya Jingga beranikan bertanya.

"Ngapain? " tanya Bagas.

"Lo enggak marah gue nerima barang dari cowok lain?" tanya Jingga.

"Marah, tapi enggak ditunjukkin,"jawab Bagas jujur.

Jingga diam, tak mengerti harus membalas apa.

"Katanya, tanda sayang itu takut kehilangan. Dan itu bener, Gue takut banget lo hilang, Gue benci saat lo tinggal Nga," jeda sebentar. "Renggang sama lo rasanya enggak enak Nga, cukup kemarin lo nolak gue peluk dan pergi. Sekarang lo mau ada sedekat ini sama Gue, Gue udah bersyukur. Gue enggak mau mikirin hal-hal enggak penting. Takut bertengkar lagi. Jadi malam ini Gue mau peluk lo, istirahat ya. Lo pasti cape. "

"Tapi... "

"Tidur, besok gue jelasin semuanya. Enggak ada cewek lain, Gue cuman sayang sama Elo. "

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang