chapter 28: Boleh minta banyak hal

289 52 5
                                        

"Tulusnya jangan pernah surut, perhatiannya enggak boleh berhenti." Jingga bilang begitu ketika Bagas peluk dia dan ucapkan banyak kata terima kasih sambil menangis.

Jadi tadi, Bagas baca surat yang Jingga tulis di ruangan kerjanya. Tadinya mau langsung selesaikan pekerjaan, tapi dapat hadiah seperti ini bagaimana bisa Bagas pikirkan yang lain. Fokusnya sekarang adalah Jingga dan calon anaknya. Dengan tangis haru, Bagas turun dari lantai dua menuju kamar utama tempat Jingga hendak terlelap.

Jingga sudah membaringkan tubuh mau bersiap tidur, tadi sudah berpesan banyak pada Bagas tentang jangan terlalu memaksakan diri, beri vitamin dan siapkan air minum. Baru saja akan pejamkan mata, awalnya kaget melihat si kuat datang-datang menangis. Tapi ingat tentang kejutan yang dia buat sendiri buat Jingga langsung paham, Bagas nya sedang bahagia.

"Jingga," panggil Bagas, masih menggenggam surat yang Jingga buat.

"Eh mau istirahat ya? " tanya Bagas yang sadar Jingga sudah bersiap tidur.

"Kenapa? Sini."

Singkirkan rasa bersalahnya, Bagas ikut rebahkan tubuh disamping Jingga, peluk pelan dari belakang sambil ulurkan kertas suratnya ke depan.

"Ini, isi suratnya beneran? "tanyanya lirih.

"Yang mana? " tanya Jingga jahil.

"Semuanya, terutama paragraf terakhir."

Jingga tak bisa menahan tawa, "ya beneran lah, ngapain Aku bohong. " jawab Jingga diakhiri kekehan.

"Beneran kita bakal punya anak? Dua sekaligus Nga?" tanya Bagas lagi dengan mata berbinar. Padahal wajahnya basah sebab terharu, tapi masih saja banyak bertanya ini itu.

Jingga ubah posisi tidurnya jadi menghadap Bagas, tatap wajah basah Bagas yang lucu. Tanpa ijin menangkup pipi Bagas lembut.

"Iya suamiku, enggak lama lagi kita bakal jadi orang tua. "

Mendengar kata orangtua malah membuat Bagas semakin terisak, seperti anak kecil.

"Loh, kenapa? "tanya Jingga panik, mencoba tenangkan dengan usap lembut rambutnya. Bagas yang Jingga kenal tidak cengeng sama sekali.

"Anak kita mau dua loh, masa masih nangis. "

Dibilang begitu Bagas malah tambah terisak.

"Maaf buat semua salah aku, berarti kemarin kamu emang lagi sensitif kan? Aku juga kepikiran alasan kenapa kamu sampai seperti kemarin, tapi belum kepikiran sampai kesini. Aku harus apa biar kamu maafin?"

Jingga menggeleng sebab sedang tidak inginkan apapun. Dia bahkan tidak sepenuhnya paham dengan kalimat yang diucap Bagas yang terkesan buru-buru.

"Aku gapapa Bagas," jawab Jingga dengan senyum.

"Aku salah, maaf ya. Aku janji buat perbaiki lagi semuanya. Sekarang kamu mau apa, adek adek di dalam mau apa?"

Mendengar tutur Bagas membuat Jingga tidak bisa menahan tangisnya juga. Benarkan, Jingga beruntung sebab punya Bagas. Tapi kali ini dia benar-benar belum mau sesuatu makanya hanya gelengan yang bisa dijadikan jawaban.

"Aku peluk ya? " tanya Bagas.

Jingga terkekeh kemudian mengangguk, "enggak sekalian ngajuin proposal dulu. Mau peluk pakai minta ijin segala. "

"Aku takut kamu enggak nyaman."

"Mana ada, pelukan suamiku paling nyaman."

"Dih gombal. "

"Biarin wle."

Cukup lama peluk yang mereka lakukan, sampai Jingga mengurainya sebentar untuk beri jarak agar menghadap Bagas untuk bantu hapus air mata suaminya, Bagaspun lakukan hal yang sama.

"Ini kabar bahagia, kita harus sama-sama senyum. "ucap Jingga tulus.

"Ini kan tangis bahagia, biar mereka tau bahagianya kita waktu tau mereka hadir."

"Iya deh, pasti kalah adu argument sama kamu. "

"Mereka udah pernah minta sesuatu belum? "tanya Bagas.

"Belum, kalau nanti minta yang aneh aneh maafin ya. "

"Emang cewek ngidam kalau minta yang aneh-aneh bakal separah apa? "

"Kata Bunda, waktu hamil aku dia minta semangka bentuk galon."

"Gapapa, jangankan minta semangka bentuk galon, dunia pun aku kasih. "

Jingga bisa tenang, Bagas bukan manusia suka ingkar jadi ucapannya sangat bisa di percaya.

"Nanti TK-nya mereka mau dimana?"

"Enggak jadi lanjutin kerjaan? " ucap Jingga balik bertanya.

"Jangan bahas kerjaan, Aku disini temenin kamu. Jawab aja pertanyaan Aku yang tadi. "ucap Bagas sambil perbaiki posisi tangannya. Padahal mereka punya banyak bantal empuk, tapi untuk sebentar Bagas pinta Jingga jadikan bahu kanannya sebagai tumpuan. Tangan Bagas tak berhenti mengusap lembut rambut Jingga sejak tadi.

"Sebentar, " ucap Jingga kemudian bangun dan ambil sesuatu dari laci disamping ranjang, hasil USG nya.

"Ini," ucap Jingga. Setelah berikan pada Bagas, dia kembali seperti sebelumnya.

"Mereka masih sekecil ini ya? " Tanya Bagas takhub.

Jingga mengangguk, "kecepetan kalau udah harus bahas mau di sekolahin dimana, gimana kalau bahas soal nama aja? " saran Jingga.

"Mereka masih kecil banget, gimana kalau kamu ceritain gimana bisa tau kehadiran mereka, mulai besok ke rumah sakit Aku antar ya. Jangan kecapean. "

"Aku mau cerita, tapi kamu jangan marah apalagi khawatir. "

"Enggak janji."

"Ya udah enggak mau cerita. "

"Kok gitu. "

"Lagi enggak mau diomelin aja. "

"Cerita dong, Aku juga pengen tau sejarah mereka. "

"Sejarah apaan deh, kisah mereka ya sederhana, mereka ada karena kita Mami Papi nya. "

"Oh jadi manggilnya mau Mami Papi aja?"

Dengar pertanyaan itu malah buat Jingga malu, tiba-tiba pipinya merona begitu saja.

"Kok diem?" tegur Bagas.

"Ya gimana enggak diem, kamunya bikin kaget. "

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang