Kehebohan yang terjadi akibat ulah Shanum membuat Habib meminta langsung kepada orangtuanya untuk segera menikah kan mereka, Shaina belum setuju akan hal itu tapi karena Shanum pasti tak akan berhenti mengganggu mereka maka dia harus menerima lamaran dadakan ini. Habib senang, tersenyum lebar menampilkan gigi yang rapi.
Orangtua Shaina sebenarnya masih berat melepaskan anak gadis untuk menikah diusia yang masih sangat muda, tapi niat baik keluarga Habib juga tidan bisa ditolak. Apalagi selama ini ayah Shaina sudah mengenal baik mereka, kedekatan antara putrinya dan Habib sudah jadi bukti kalau mungkin keduanya sudah berjodoh.
Ini masih jadi cerita saja, tapi yang sudah ada kejelasan antara kesepakatan dua belah pihak. Shanum memiliki akal yang picik, tapi Shaina tak akan mengalah dengan percuma. Tidak ada yang boleh mengambil lelaki disebelahnya.
"Maaf karena ini terlalu mendadak, Aisyah. Tapi aku beneran gak setuju kalo Habib sama Shanum menikah, atas dasar paksaan karena kehamilan dia".
Mereka tak menyembunyikan apapun, semua yang terjadi mereka beritahu pada orangtua Shaina agar tidak jadi salah paham dikemudian hari.
"Aku ngerti, kami menyerahkan semua keputusan pada Shaina. Kan yang mau menikah mereka berdua, sebagai orangtua kami cuma memberi izin. Ya kan pa?" Aiden mengangguk melihat istri yang tersenyum.
"Aku tahu ini sedikit tidak sopan, tapi semoga kalian mengerti. Habib, om memahami kalian yang masih muda, hasrat untuk mengetahui semua hal masih menggebu. Tapi Shaina, kamu sendiri tahu bagaimana dia kan? Om harap kamu gak mengecewakan kami, cerita kalian tentang kehamilan Shanum diluar nikah, bisa mengecoh pikiran orang lain. Jadi berhati-hati dalam bertindak". Aiden memang pernah gagal dalam membina rumah tangga, dia juga pernah mengabaikan tanggung jawab pada anak-anak maka dari itu ia memberikan pesan pada Habib agar bisa menjaga kepercayaan.
Mereka menyudahi pembahasan ini, beralih topik menceritakan soal kegiataan sehari-hari yang masih saja dipenuhi kesibukan. Shaina belum tenang, dia tidak puas hati atas perbuatan Shanum. Ia ingin membalas gadis itu dengan cara yang lebih kejam, jika mengeluarkan kata-kata pedas saja tidak cukup menyadarkan Shanum mungkin menjadi istri Habib bisa menjauhkan perempuan itu dari pacar.
Shaina meminta izin mengajak Habib kekamar untuk mengobati luka diwajah lelaki itu. Habib sudah lama tidak masuk kekamar ini, setelah ayah Shaina menikahi Aisyah dia tidak selancang dulu keluar masuk tanpa izin. Menjaga betul sikap dihadapan calon mertua. Shaina mengambil kotak obat, menuang sedikit alkohol pada kapas kemudian menekan luka diwajah pacarnya. Dia sangat fokus membersihkan luka Habib, tapi itu adalah penampakan luar saja. Didalam diri Shaina, dia tidak tenang, tertekan dan bingung.
Sedikit banyak kata-kata yang dulu pernah diucapkan Shanum mempengaruhi diri Shaina, apalagi saat ia mengatakan bahwa dirinya harus menerima kenyataan kalau pada akhir kisah hanya Shanum si pemeran utama.
"Apa yang lo pikirkan, Shain? Kening lo banyak banget kerutan nya".
Shaina melihat kedalam mata Habib, disana dia selalu menemukan cinta yang besar. Kepercayaan, keyakinan dan ketulusan tapi saat ini ada secuil ketakutan. Mungkin kah Habib mulai takut jika Shanum memang mengandung anak nya?
"Gue cuma mikirin soal Shanum. Kalo emang dia adalah tokoh utama dalam cerita ini, gue takut harus pergi dan kehilangan lo". Ketakutan Shaina kembali muncul, bayangan kegelapan dimana dia tak bisa memiliki Habib lagi sudah ada didepan mata.
Dua orang yang tidak saling mencintai, bisa menikah dan melahirkan anak. Tapi dua orang yang saling mencintai, bisa hancur oleh cinta itu sendiri dan berakhir mengenaskan. Shaina sadar hubungan mereka sangat singkat, sebagai sepasang kekasih tentu nya.
"Lo gak akan kehilangan gue, dan lo gak akan kemana-mana. Tempat lo, rumah lo, hidup lo itu cuma gue, Shaina. Percaya sama gue, ini gak bakal lama. Shanum cuma hama yang emang dikasih untuk menguji kita, lo gak akan nyangka bisa kejadian kayak gini. Gue juga, sebejat apapun gue, gak pernah lupa tuh sama buang diluar dan kondom".
Satu pukulan mengenai kepala Habib, tawa nya menggema didalam kamar.
"Muka lo lucu, Shain. Ya ampun, pacar gue gemesin banget!" Dia memegang pipi Shaina, mencubit lalu menggerakkannya. Shaina yang kesal karena kata-kata Habib pun mencubit pinggang pemuda itu.
"Sakit bego! Lo niat banget cubit nya".
"Lo juga tolol, Habib! Niat banget lo bikin gue baper, tau nya kek setan lo sial".
Mereka pasangan ter-aneh yang pernah ada, bukan saat nya lagi untuk memikirkan gangguan dari Shanum. Habib memanfaatkan situasi dengan baik, dengan ada nya kehebohan ini dia bisa menikahi Shaina tanpa harus menunggu lebih lama. Licik!
KAMU SEDANG MEMBACA
LIMERENCE (COMPLETED)
ChickLitCover by : Pinterest (Edit by Me) Author note : NO CHILDREN (21+) Sedang Revisi (◍•ᴗ•◍)❤ Start : 1 Agustus 2021 End : 10 Agustus 2021
