Ariastella diam, menatap laki-laki berambut merah apel yang sedang memakan apel yang sama merahnya dengan rambutnya. Melirik gadis berstatus Putri Mahkota yang menatapnya sejak tadi, Rei mengerutkan kening.
"Kau punya masalah denganku?" Rei menggigit apel di tangannya. "Kau melihatku seperti aku melakukan kesalahan."
Tetap pada posisi dan apa yang dia lakukan sejak tadi, Ariastella tetap menatap Rei.
"Hentikan. Kau membuatku risih, bodoh!" Rei melempar apel yang ia gigit sedikit dari apel yang ia makan.
Ariastella menghindar, memberikan tatapan gemas pada Rei yang seakan tidak memiliki salah. "Itu menjijikkan."
"Kau juga lama-lama kelihatan menjijikkan kalau terus melihatku seperti itu." Rei menatap Ariastella yang bibirnya membentuk garis lurus. "Apa-apaan ekspresi itu?" Rei mendengkus.
Ariastella kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Menghela nafas, Ariastella menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Kau menyebalkan."
"Itu harusnya kata-kataku." Rei memakan gigitan terakhir apelnya. "Apa yang salah? Kenapa kau seperti gelisah?" Rei mendorong kepala Ariastella yang berada di atas meja.
Ariastella mendengkus, menepis tangan Rei yang mengganggunya. "Kalian menyebalkan!"
Gaun merah muda bercampur putih yang dipakai oleh Ariastella itu tampak bergerak seiring dengan langkah Ariastella keluar dari ruangan itu.
Mengerutkan kening bingung, Rei berpindah menatap Ceilo yang berekspresi seperti orang yang tidak memiliki harapan lagi.
"Dia kenapa? Kepalanya bermasalah?" Rei memutar jari telunjuk di samping kepalanya.
"Tadi pagi Tuan Putri bertanya dimana Master tinggal karena selama ini Tuan Putri tidak pernah tau, lalu bertanya tentang masa lalu Master." Ceilo menjelaskan.
Rei mengangkat satu alisnya. "Untuk apa dia mau tau?"
"Mungkin Tuan Putri merasa tidak tau apa-apa tentang Master padahal sudah saling mengenal sejak lama." Dari yang Ceilo simpulkan tampaknya Ariastella hanya ingin tau tentang segala hal yang dia anggap penting.
Rei berdecak, berdiri dari kursinya. "Memang apa menariknya hidupku sampai dia mau tau." Rei berjalan diikuti Ceilo. "Dia memang bodoh."
Ceilo tersenyum. "Itulah Tuan Putri kita."
***
Menendang batu yang berada di dekat kakinya, Ariastella menghela nafas. Sebenarnya ini hanya hal sepele, tapi dia merasa berhak tau.
Tentang Ayah, Paman maupun Rei. Sebagian besar masa lalu Ceilo sudah ia ketahui tapi ketiga orang itu hanya sebagian kecil yang dia tau, apalagi Rei. Benar-benar tertutup dan tidak ada informasi lain.
Ariastella duduk di bawah pohon, bersandar pada pohon besar yang rindang. Semilir angin membuat ia tenang.
"Hoi."
Ariastella hampir menutup mata saat suara itu mengangetkannya. Ariastella menoleh tapi langsung kembali menatap ke arah lain saat tau siapa yang datang.
Rei meletakkan kedua tangannya dipinggang, dengan kepala menggeleng menatap gadis berusia enam belas tahun yang membuang muka darinya.
"Kau marah hanya karena itu?" Rei menghela nafas. "Dasar bodoh."
"Kau yang bodoh." Ariastella tetap menatap ke arah lain.
Satu alis Rei naik, tidak biasanya Ariastella akan seperti ini. Biasanya Ariastella akan memakai namanya saat berbicara tapi kali ini Putri itu berbicara tidak seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (2) - Ariastella
FantasyThe Another World Series (2) - Ariastella Cerita berdiri sendiri. Sebuah kutukan membuat setiap anggota kerajaan baru akan mendapatkan 'ciri khas' dari keturunan Raja saat umur keenam. Dia hanya gadis biasa yang katakan saja bereinkarnasi atau hi...
