Seekor burung hantu berwarna putih bertengger di sandaran kursi gadis berambut silver yang sedang memakan kue dengan santai.
"Aku sudah lumayan bisa."
Ceilo belajar dengan cepat, dalam waktu hanya empat tahun dia bisa menguasai banyak sihir dan keahlian dalam berpedang serta memanah semakin baik. Bahkan dia sudah di katakan akan menjadi penjaga Ariastella saat sudah waktunya. Padahal dulu Ceilo seperti anak anjing yang selalu takut kesana kemari tanpa Ariastella tapi lihat sekarang dia sudah bisa berdiri sendiri.
"Rei pasti selalu memarahimu." Ariastella tersenyum, dia mengusap bulu burung hantu yang bertengger di sandaran kursinya. "Kau bermain dimana Owel, bulumu kotor."
Owel, burung hantu yang menjadi hadiah Pamannya saat ulang tabunnya yang kesembilan, bulu berwarna putih bersih dan selalu ikut kemanapun Ariastella pergi, bisa juga digunakan sebagai pengirim pesan. Burung hantu yang pintar.
Ceilo terkekeh. "Dia mungkin berjalan-jalan sedikit jauh, karena itu bulunya kotor."
"Dia baru saja mandi kemarin." Ariastella menggeleng.
Seekor harimau dengan warna oranye dan hitam yang tampak tegas berjalan di samping laki-laki dengan rambut merah yang sedang memakan apel. Itu Rei.
Ariastella berdiri dia berjalan menuju harimau besar itu dan mengusap bulu harimau yang tampak senang sampai membaringkan kepalanya di pangkuan Ariastella.
"Dia selalu manja." Ceilo tersenyum. "Dia sudah sangat besar, bahkan lebih besar dari pilar ini." Ceilo memegang pilar yang menjadi penyangga atap tempat mereka sedang bersantai ini.
"Sebentar lagi dia akan tinggal memakan kepala Arisa." Rei melirik Ariastella yang bermain dengan Tigera, dinamai seperti itu karena harimau itu perempuan. Itu ide Ariastella, kalau kata Rei namanya aneh.
"Kau selalu saja mengataiku." Ariastella mendengkus. "Tapi kalau tidak begitu bukan kau."
"Kalau sudah tau diam saja." Rei mendengkus. Penyihir itu memanggil Owel dan memberikan sepotong kecil apel yang ia makan.
"Dia tidak makan itu." Ariastella menatap Rei.
"Dia makan, kau diam saja. Kenapa makin lama kau makin cerewet." Rei mendengkus. "Diam dan tenang apa susahnya."
Ariastella mendengus. "Dasar Kakek-kakek."
"Apa kau bilang?!" Rei melirik Ariastella yang pura-pura tidak mendengar dan sibuk bermain dengan Tigera. "Hei, ulangi kata-katamu tadi!"
"Tigera, apa kau mendengar sesuatu? Aku tidak. Malah aku merasa mendengar suara nyamuk." Ariastella mengusap bulu Tigera yang tampak tenang.
Rei berdecak. "Kau!"
"Sudah, jangan bertengkar." Ceilo, si penengah yang selalu menjadi pelerai dalam perdebatan yang terjadi antara Tuan Putri dan Penyihir Kerajaan. "Cuaca sedang cerah lebih baik di nikmati, bukan di rusak dengan berdebat."
"Dia yang mulai duluan." Ariastella berkata pelan tapi terdengar oleh Rei.
"Apa kau bilang?" Rei berdiri dari kursinya.
"Sudah." Ceilo berdiri di depan Rei. "Master, harap tenang."
Rei mendengkus dia akhirnya kembali duduk di kursinya. Ceilo berbalik, menatap Ariastella.
"Putri, sudahi berdebatnya. Lebih baik nikmati kue saja."
Ariastella mengangguk, dia berdiri. "Karena aku baik, aku aka menuruti Ceilo." Ariastella duduk di kursinya membuat Owel berpindah ke sandaran kursi Ariastella.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (2) - Ariastella
FantasiaThe Another World Series (2) - Ariastella Cerita berdiri sendiri. Sebuah kutukan membuat setiap anggota kerajaan baru akan mendapatkan 'ciri khas' dari keturunan Raja saat umur keenam. Dia hanya gadis biasa yang katakan saja bereinkarnasi atau hi...
