41. Berlatih dan Sebuah Perpisahan

3.6K 323 14
                                        

Istana tampak biasa saja akhir-akhir ini. Waktu berlalu dengan cepat, ini sudah lewat beberapa minggu sejak Ariastella kembali dari Kuil.

Belajar mengendalikan Mana, Ariastella perlahan bisa menggunakan sihirnya. Dia banyak berlatih bersama Rei dan kadang Ceilo memberikan tips untuknya agar bisa mengendalikan dengan lebih stabil.

Ingatan tentang kejadian itu masih berada di kepalanya. Beberapa kali ia memimpikan hal yang sama, kejadian buruk itu.

Gambaran masa depan yang diberikan padanya.

Ariastella menghela nafas, ia melirik Tigera yang tertidur dengan tenang di tempat tidurnya sedangkan Ariastella duduk di kursi setelah menulis beberapa surat balasan para bangsawan yang masuk.

Gambaran masa depan itu sangat mengganggunya kalau boleh jujur. Mengerikan.

"Apa yang kau pikirkan?" Seperti biasa, Rei akan selalu datang tanpa melalui pintu. Penyihir itu berjalan masuk dari balkon kamar Ariastella.

"Hanya melamun." Ariastella mengangkat bahunya. Dia merapikan beberapa buku sihir yang ia baca.

Setelah berlatih mengendalikan Mana yang kini mengalir di tubuhnya ada satu hal yang ia sadari. Mana di tubuhnya sangat sering meledak, itu hanya dalam skala kecil tidak sampai parah, kadang Mana dalam tubuhnya seperti keluar dengan sendirinya.

Seperti tidak menyatu.

Apa ini karena masa depan itu?

"Kau melamun. " Rei menekan dahi Ariastella yang diam mematung. "Ayahmu yang memikirkan negara ini, bukan kau jadi jangan banyak pikiran."

Ariastella berdecak, dia menurunkan tangan Rei dan kembali merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja.

"Sebenarnya apa yang kau lihat?" Rei, entah berapa kali sudah menanyakan hal ini pada Ariastella.

Sering melamun dan tidak konsentrasi, Rei sadar jika itu terjadi setelah mereka kembali dari Kuil. Pasti ada hubungannya, terutama kenapa Ariastella bertanya tentang Ibunya yang dapat melihat masa depan.

"Katanya ada penyerangan Penyihir Hitam di daerah selatan." Ariastella berjongkok di samping Tigera yang bangun saat perutnya diusap oleh Ariastella. "Bagaimana?"

Rei dan Pamannya baru kembali dari Selatan, Penyihir Hitam menyerang satu daerah kecil di sana, itu mengakibatkan semua sumber daya yang ada habis dan membuat orang-orang kehilangan bahan makanan mereka.

"Mereka menyebalkan." Rei menghela nafas. "Kau selalu saja mengalihkan pembicaraan."

Ariastella tersenyum, dia berjalan keluar dari kamarnya dengan Tigera mengikuti, begitu juga Rei, Ceilo tampak mengikuti dari belakang.

Orang-orang sepertinya bekerja sangat keras untuk mencari tahu tentang para penyihir itu. Ya, mereka memang seburuk itu.

Ariastella duduk di kursi, dia menatap tangannya yang agak terasa sakit. Selain berlatih mengendalikan Mana yang baru ia miliki, diam-diam dia meminta Ceilo mengajarinya tentang pedang dan panah, meskipun hasilnya sama saja tidak sebaik perkiraan.

Hillary tampak mendekat membawa sesuatu. "Yang mulia, ada surat dari Nona Loria."

"Bukan seharusnya itu untuk Rei?" Loria masih menyukai Rei, meskipun akhir-akhir ini Putri itu jarang berkunjung.

Rei memberikan respon tidak tertarik seperti biasanya. "Aku tidak peduli."

Meraih surat tersebut dan membacanya, Ariastella agak sedih karena ternyata surat tersebut adalah undangan pertunangan Putri tersebut dengan seorang Duke Muda. Sepertinya cinta Loria dan Rei sudah kandas begitu saja.

"Dia akan bertunangan dan menikah. Sepertinya kau akan sendiri seumur hidupmu, Rei." Ariastella melirik Rei yang sedikit mengintip ke arah surat yang ia baca. "Dia harap kau datang."

"Ya, setidaknya Master harus datang." Ceilo selalu berada di pihak Ariastella tentunya. "Itu agak pengecut jika Master tidak datang." Ceilo pura-pura batuk membuat tatapan tajam Rei langsung mengarah padanya.

Rei berdecak. "Menyusahkan saja."

***

Cassiel menatap keponakannya yang tampak berlatih dengan keras. Sihir maupun alat tajam. Seharusnya seorang Putri tidak melakukan itu, walaupun belum di umumkan secara resmi, Ariastella adalah Putri Mahkota yang akan memimpin negara ini nantinya. Seharusnya tangannya tidak boleh terluka, tapi Ratu yang kuat akan membuat negaranya kuat juga.

"Arisa!"

Ariastella yang baru selesai berlatih bersama Rei menoleh. "Selamat sore, Paman."

Cassiel tersenyum. "Kau berlatih dengan sangat keras."

"Aku harus jadi kuat!" Ariastella tersenyum lebar. "Apa ada sesuatu?"

Cassiel melakukan beberapa perjalanan, salah satunya untuk mencari keberadaan para penyihir hitam yang bisa mengancam kerajaan. Mereka memang menjadi hal yang berbahaya jika di biarkan, namun itu juga salah satu cara untuk melindungi keponakannya.

"Sepertinya pamanmu ini akan pergi lagi." Cassiel memegang kepala Ariastella. "Kau tidak akan kesepian, kan?"

"Paman akan pergi lagi?" Ariastella agak kaget, ini baru sekitar sebulan lebih dari kembalinya Cassiel dari perjalanan panjang, tapi Cassiel sudah akan pergi lagi. "Pasti akan lama."

Cassiel tersenyum lebar. "Umur pamanmu ini bertambah sedikit karena kau mengkhawatirkannya."

Ariastella mendengkus. "Itu agak berlebihan!"

Namun, Cassiel tetap akan pergi. Setidaknya dia telah mendapatkan beberapa petunjuk yang bisa menjadi patokan dalam penyerangan para penyihir hitam yang meresahkan seluruh negeri.

"Yang Mulia pergi dalam waktu yang lama pasti." Ceilo melirik Rei yang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. "Master tidak bisa memprediksi keberadaan mereka?"

"Sudah. Itu mengapa Cassiel akan pergi." Rei membalas sambil menatap ke arah bangunan Istana. "Para penyihir itu tidak bisa berdiam di satu tempat terlalu lama, mereka juga akan sangat kentara karena meminum darah manusia."

"Ada kota yang tiba-tiba kehilangan warganya?"

"Ya. Jaraknya cukup jauh dari sini. Secara tiba-tiba namun berkala, dalam sebulan ini warga mereka perlahan menghilang satu persatu namun tidak ada yang tau kemana mereka yang hilang." Rei menatap Cassiel dan Ariastella.

"Master agak cerewet ternyata." Ceilo tersenyum tapi malah dihadiahi satu pukulan di punggungnya oleh Rei.

Ariastella mendekat, tampaknya sudah selesai berbincang dengan pamannya yang esok hari akan pergi dan mungkin memakan waktu yang lama.

"Paman akan pergi cukup lama." Ariastella menghela nafas. "Padahal baru saja kembali."

"Biasanya kau tidak menyukai Cassiel karena sering memelukmu." Rei dan mulutnya yang tidak bisa disaring. "Kenapa jadi dramatis."

Putri itu mendengkus. "Diamlah, kau selalu saja menyebalkan Rei."

Ceilo hanya melihat, seperti biasanya dia hanya akan menjadi penengah dan penonton setia dari keributan kedua orang ini.

"Bagaimana kalau kita istirahat?" Ceilo bersuara saat perdebatan antara Putri Mahkota dan Penyihir berumur seabad itu mulai memanas.

Ariastella mengangguk pelan. "Karena Ceilo yang mengatakan maka akan aku turuti."

"Bilang saja kau kalah." Rei menarik ujung bibirnya, membuat tatapan merendah pada Ariastella yang seperti hendak melepaskan kepala penyihir itu dari tempatnya.

"Kau benar-benar menyebalkan, Rei!"

Pertengkaran yang tidak dapat di hindari, kali ini berakhir dengan ledakan dari sihir Ariastella yang baru dia pelajari beberapa hari ini.

Sepertinya sedang trend melawan guru sendiri akhir-akhir ini.

"Kau menyebabkan Rei!"

. . .

21 September 2023

TAWS (2) - AriastellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang