Ariastella dan Austun masuk ke dalam kemah itu, mendapati beberapa ketua prajurit berada di sana bersama Kaisar dan penyihir kerajaan.
"Selamat malam." Ariastella tersenyum agak canggung, dia melirik ke arah Ayahnya dan Rei yang hanya diam.
Seorang kepala prajurit yang ada di sana berdiri dan menunduk. "Yang Mulia sudah sangat membantu disini."
Ariastella mengangguk pelan. "Itu sudah tugasku."
Rei menatap Ariastella, tampaknya agak merasa tidak nyaman. "Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan mengenai Istana. Setengah dari Istana hancur, apa ada korban jiwa?"
Istana? Ia memang tidak terlalu memperhatikan saat kejadian itu berlangsung namun, dia tetap mengumpulkan beberapa informasi sebelum pergi meskipun agak terburu-buru.
"Tidak ada korban jiwa, tapi beberapa tempat seperti gudang senjata dan perpustakaan hancur. Para pelayan sudah mengatasi itu, walaupun itu tampaknya akan mengganggu beberapa persediaan." Ariastella membalas sesuai dengan apa yang ia ketahui.
"Pelindung Istana, apa masih ada?"
"Tidak," Ariastella menggeleng. "Tapi, sudah di perbaiki. Beberapa penyihir muda di Istana telah memperbaikinya."
Sebenarnya itu informasi yang ia dapatkan dari Loria. Dia memang kabur, tapi ia meninggalkan surat yang meminta untuk Loria memberikan informasi mengenai Istana setiap harinya. Elang pengantar pesan akan mengantar itu.
Ariastella meraih beberapa kertas dari tas yang tidak ia lepaskan sejak ia datang ke tempat ini. "Ini informasi dari pengasuh saya di Istana. Terakhir informasi itu kemarin, semua sudah ditangani."
"Kau memilih informan yang baik di saat kami bahkan tidak mendapatkan informasi apapun." Rei meraih kertas-kertas yang diberikan Ariastella.
"Beberapa pelayan terluka, mungkin itu salah satu faktornya." Ariastella membalas. Dia tidak tau jika informasi mengenai Istana agak sulit diakses, bahkan jika mengirim pesan menggunakan burung pengantar pesan tidak berhasil, ia telah meninggalkan kertas transport pada Loria. Karena jarak yang cukup jauh juga memengaruhi.
Rapat itu tampaknya selesai setelah ada diskusi singkat. Ini sudah mulai larut dan perlu istirahat.
"Arisa."
Ariastella yang akhirnya minum setelah hampir seharian lupa akan makan dan minum menoleh pada Ayahnya. Dia berjalan mendekat pada Ayahnya yang masih duduk di tempat yang sama sejak tadi.
"Ada apa, Ayah?"
"Tanganmu, kemarikan."
Mengerutkan keningnya, Ariastella mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Ayahnya dengan tatapan bingung.
Kaillos memberikan sihir penyembuh pada tangan Ariastella yang mengalami luka bakar, walaupun telah di balut dengan perban dan diberikan obat. "Seorang Putri tidak boleh memiliki bekas luka."
Anggukan pelan yang hanya menjadi balasan. Ia juga tidak bisa mengatakan apapun.
"Rei antar dia kembali. Dia pasti tidak akan mau tidur disini." Kaillos melepaskan beberapa baju zirahnya yang masih tersisa, seperti sepatu berat yang masih ia gunakan.
Rei menurut, begitu juga Ariastella yang berjalan keluar dari tenda Ayahnya.
"Manamu habis hingga tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri?" Rei melirik Ariastella yang mengangguk pelan. "Kau tidak melepaskan tas itu sama sekali, ya? Memang apa isinya?"
"Ramuan dan beberapa catatan yang rahasia." Ariastella melirik Rei. "Ceilo, tidak kelihatan. Dia ada dimana?"
"Dia menjaga area sekitar malam ini. Meskipun terlihat tenang, perang masih berlangsung. Harus selalu waspada." Rei menoleh pada beberapa prajurit yang lewat. "Kau hebat bisa kabur dari Loria."
KAMU SEDANG MEMBACA
TAWS (2) - Ariastella
FantasyThe Another World Series (2) - Ariastella Cerita berdiri sendiri. Sebuah kutukan membuat setiap anggota kerajaan baru akan mendapatkan 'ciri khas' dari keturunan Raja saat umur keenam. Dia hanya gadis biasa yang katakan saja bereinkarnasi atau hi...
