32. Kedatangan

4.8K 639 6
                                        

Selesai makan siang, Rei membawa Ariastella ke kamar penyihir itu jika di Istana.

Letaknya cukup jauh, berada di daerah yang jarang Ariastella datangi karena biasanya di daerah tersebut lebih banyak digunakan untuk tamu yang datang.

Saat Ariastella bertanya kenapa penyihir itu tidak tinggal saja di salah satu kamar yang berada di sekitar kamar Ariastella tapi penyihir itu bilang dia tidak menyukai tempat yang terlalu terkena sinar matahari.

Kamar ini tampak agak berantakan, dengan kertas-kertas di atas meja serta buku-buku sihir yang berserakan.

"Apa tidak ada pelayan yang merapikan semua ini?" Ariastella meraih salah satu buku yang terjatuh di lantai. Sihir, semua buku itu tentang sihir dan ramuan.

"Mereka hanya aku izinkan merapikan tempat tidur dan tidak menyentuh buku-buku atau penelitianku." Rei duduk di kursi, meraih beberapa kertas yang ada di atas meja. "Kau beruntung aku tidak mendorongmu dari atas sini karena menyentuh buku-bukuku."

"Kau terlalu kejam." Ariastella mendengkus, dia meraih beberapa buku lain yang tergeletak di lantai lalu meletakkan buku-buku itu di atas meja. "Apa Ayah tau kalau kau tinggal di sini?"

"Kau pikir saat tubuhku kecil aku tinggal dimana?" Rei mendengkus. "Dia melarangku untuk tinggal di rumahku sampai aku cukup besar. Padahal umurku lebih tua darinya."

Ariastella terkekeh. "Tapi dulu 'kan kau masih anak-anak meskipun sudah ratusan tahun."

Rei hanya tersenyum masam.

Ariastella duduk disamping Rei, penyihir itu memakan apel yang sama merahnya dengan rambut penyihir itu. Satu hal yang tidak pernah berubah, Rei tetap sangat menyukai buah.

"Kau sangat menyukai buah ya?" Ariastella bersandar pada sandaran sofa.

"Selama itu bisa dimakan akan aku makan." Rei mengangkat bahu. "Akar saja pernah aku makan."

"Benarkah?" Ariastella melirik Rei agak kaget. "Apa dulu Ayah juga hidup susah?"

Rei mengangguk. "Beruntunglah kau sekarang tidak kekurangan apapun."

"Ya, aku beruntung." Ariastella menghela nafas. "Tidak ada lagi yang mengataiku aneh, aku anak Kaisar. Siapa yang akan berkata aku anak aneh?" Ariastella terkekeh.

"Kau memang aneh."

Ariastella tertawa. "Rei juga aneh."

Suara ketukan pintu membuat Ariastella menoleh, Ceilo masuk dengan wajah agak kelelahan.

"Aku mencari Tuan Putri sejak tadi." Ceilo duduk di sofa single disamping Rei. "Grand Duke sudah kembali."

"Paman? Benarkah?" Ini berita baik jika Pamannya benar-benar kembali. "Dimana?"

"Tapi dia membawa seseorang." Ceilo melirik Ariastella. "Seorang gadis, sepertinya lebih muda dari Tuan Putri."

Rei menaikkan sebelah alisnya. "Apa anak haram Raja?"

"Hei!" Ariastella memukul lengan Rei. Dia menatap Ceilo. "Siapa itu?"

"Duke menyelamatkan gadis itu saat hampir di jual ke pasar gelap. Dan akhirnya membawanya kemari karena terluka." Ceilo duduk tegak. "Ada yang aneh."

"Ya, itu cukup aneh." Rei meletakkan kertas yang ia baca. "Sejak kapan Cassiel semudah itu membawa orang asing ke Istana."

"Mungkin dia benar-benar terluka parah." Ariastella di hadiahi tatapan menusuk dari Rei. "Itu manusiawi."

"Sudahlah." Rei memakan gigitan terakhir apelnya. "Aku mau melihat siapa dia." Rei berdiri dan berjalan keluar, diikuti Ceilo dan Ariastella.

"Keponakan kesayanganku!" Cassiel berlari, langsung memeluk Ariastella erat. "Uhuuu, aku sangat merindukanmu."

TAWS (2) - AriastellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang