29. Pesta Minum Teh

5.4K 809 12
                                        

Hari ini pesta minum teh dari Nona Iliana tiba. Ceilo dan Rei ikut dengannya, Rei tentu tidak sepenuh hati ikut.

"Aku penyihir bukan pengawal."

Itu yang dikatakan penyihir itu sejak dengan terpaksa ikut Ariastella untuk pergi ke pesta. Padahal Rei ingin bersantai. Dia mirip orang tidak punya kerjaan saja ikut dalam pesta minum teh ini.

Rei benci keramaian.

"Ini perintah Raja." Wajah Rei berubah semakin masam mendengarkan ucapan Ariastella. Gadis dengan gaun berwarna biru itu tampak cantik dengan rambut yang di sanggul rapi. "Memang apa buruknya juga kemari?"

Berdecak, wajah Rei terlihat sangat-sangat tidak berminat dengan keramaian yang ada.

"Master, ini pasti akan membuat Master lebih nyaman." Ceilo membawa sepiring buah yang di celupkan ke dalam cokelat. "Cokelatnya tidak terlalu manis."

Berdecak, Rei menerima piring itu dan memakan buah yang berlapis cokelat itu dengan wajah yang masih saja masam. Tapi makanan itu sedikit mengurangi omelan penuh keluhan yang sejak tadi keluar dari mulut penyihir itu.

"Hormat saya, Putri Ophelia." Nona Illiana, pemilik acara yang tampak anggun dengan gaun berwarna kuning datang mendekat.

Ariastella tersenyum. "Selamat siang Nona Illiana."

"Saya tidak menyangka Putri akan datang, saya sangat senang!" Dari banyaknya putri bangsawan yang mendekatinya, hanya beberapa yang benar-benar terlihat tulus ingin berteman dengan Ariastella. Sisanya hanya ingin lebih kuat di bawah naungan nama Raja. "Selamat siang Sir Astienue."

"Selamat Siang." Ceilo tersenyum dan membuat wajah Nona Illiana tampak agak memerah.

Pesona ksatria berambut putih miliknya memang luar biasa. Bahkan beberapa tamu menoleh pada mereka hanya karena Ceilo tersenyum. Pesona yang luar biasa.

"Ah, Tuan Trinuviel, hormat saya." Illiana memberikan salamnya pada penyihir yang tampak mengabaikan apa yang dia lakukan.

"Hm." Rei memakan makanannya dengan santai.

Ariastella menggeleng. "Dia memang begitu, biarkan saja." Nona Illiana mengangguk dia mencuri satu lirikan pada penjaga milik Tuan Putri mereka sebelum pamit untuk menyapa tamu lain.

"Tidak buruk." Rei meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. Penyihir itu meraih sepotong kue dari atas piring yang telah di sediakan. "Lumayan."

"Memang tidak ada yang pernah baik di matamu." Ariastella berdecak. "Padahal kuenya enak."

"Biasa saja." Rei membalas tanpa menoleh ke Ariastella.

"Sudah-sudah, kita sedang diluar jangan bertengkar." Ceilo si penengah bersuara agar kedua orang itu tidak melanjutkan lagi perdebatan mereka.

Acara itu berlangsung dengan baik, bahkan Levon dan Liezel juga datang dan kali ini Rei tidak dapat menghindar dari Liezel. Tapi dia menggunakan Ariastella sebagai tameng.

"Ini agak tidak sopan, kau tau?" Ariastella melirik Rei yang tampak tidak peduli, penyihir itu malah menguap. Ariastella berdecak. "Kau memang menyebalkan."

Mereka kabur, tepatnya Rei yang kabur dengan membawa Ariastella sebagai tameng, hasilnya Ceilo harus tinggal dan berusaha menenangkan Liezel.

Taman besar yang ada di kediaman pemilik acara tampak memiliki bunga yang sangat subur. Bahkan ada bunga yang belum pernah Ariastella lihat.

Sebuah pohon dengan bunga berwarna ungu, bunga yang sangat indah dan belum pernah Ariastella lihat.

"Aku mengantuk." Rei menjatuhkan tubuhnya di bawah pohon itu, bersandar pada pohon berbunga ungu tersebut.

TAWS (2) - AriastellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang