20. Sisi Lain

7.5K 1.1K 13
                                        

Tinggal menghitung hari untuk acara ulang tahun Ayah dan Pamannya. Keduanya tampak sibuk, lebih tepatnya keduanya sibuk dengan berkas-berkas yang datang. Ada beberapa laporan yang baru datang ada juga laporan yang belum terselesaikan.

Ariastella berakhir di taman Istana bersama Loria, Rei tampak sibuk dan dia tampaknya harus bermain sendiri hari ini karena semua orang sibuk.

Sarapan saja dia hanya bersama Pamannya, itupun Pamannya tidak mengganggunya seperti hari biasanya. Artinya mereka semua sedang sibuk tidak seperti Ariastella yang tidak ada pekerjaan.

Dia sudah selesai dengan pelajarannya sejak tadi, sekarang dia bosan karena tidak tau harus apa.

"Aku bosan."

Loria terkekeh pelan. "Tuan Putri lapar?"

"Bahkan para koki sedang sibuk, aku tidak mau mengganggu."

Istana Utama kelihatan lebih sepi dari biasanya, ada banyak pelayan yang membantu di Istana Ratu oleh karena itu sejak pagi Istana sepi. Bahkan pelayan yang biasa bersama Loria juga ikut membantu. Hari ini hanya dia dan Loria saja.

"Mereka sudah membuatkan camilan untuk Tuan Putri jika Tuan Putri mau."

Ariastella mengangguk. "Aku mau berjalan sebentar."

"Akan berbahaya Tuan Putri, penjagaan Istana sedang menurun."

Ariastella menghela nafas, padahal dia hanya mau berjalan-jalan saja. Dia bosan, tidak melakukan apa-apa. Dia sempat membaca buku di perpustakaan tapi berakhir dengan rasa bosan yang menggerogoti jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan.

Ariastella mengikuti Loria, melewati taman Istana, tidak terasa dia sudah beberapa bulan tinggal di tempat ini. Walaupun kesan pertama tidak begitu baik.

"Lepas!"

Langkah Ariastella berhenti, telinganya tidak sengaja menangkap suara teriakan yang asalnya tidak begitu jauh.

Seorang anak kecil dengan pakaian compang camping, ada luka di pipi anak itu. Kaki anak itu kelihatan pincang, jika di perhatikan lagi ada luka di dahi anak itu.

"Tuan Putri."

Loria berdiri di depan Ariastella, menutup pandangan Ariastella pada anak kecil berambut putih yang suaranya tidak lagi terdengar.

"Itu siapa?" Ariastella berusaha untuk melihat.

Loria menggeleng. "Bukan siapa-siapa. Tuan Putri lebih baik tidak berurusan dengan hal tadi."

"Tapi dia terluka." Ariastella berlari, dia menatap sekitar tetapi tidak menemukan anak laki-laki itu.

"Yang Mulia!" Loria yang menunduk membuat Ariastella menoleh, dia menatap Ayahnya yang melirik dengan tatapan datar.

"Ayah!" Ariastella memeluk Kaillos. "Tadi ada yang terluka, dia siapa? Ayah."

Kaillos hanya diam, dia berjongkok di depan Ariastella. "Pergilah dengan pengasuhmu."

Hei, jiwa dewasa penuh hati nurani miliknya tentu tidak akan diam saja. Bagaimana bisa dia diam saja? Anak kecil tadi kelihatan kesakitan dan penuh luka, bagaimana bisa dia diam saja?

"Ayah!"

Kaillos mengangkat Ariastella, memberikan pada Loria. "Bawa dia."

Loria mengangguk. "Baik, Yang Mulia."

"Ayah!"

Kaillos hanya melewatinya, melewati Ariastella yang berteriak. Hei, ada apa ini? Kenapa Ayahnya sampai seperti itu?

TAWS (2) - AriastellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang