38. Perjalanan Menuju Kuil

3K 340 4
                                        

Hari ini mereka akan pergi ke Kuil. Ariastella baru tau Kuil yang dimaksud adalah sebuah kota kecil yang sering disebut kota suci oleh banyak orang. Disana ada sebuah Kuil yang berdiri kokoh.

Mitosnya tanah dan Kuil itu adalah yang paling diberkati di seluruh negeri. Orang sakit akan sembuh hanya dengan berdoa, dan air yang di doakan di Kuil itu bisa membuat keajaiban.

Itu terlalu berlebihan dan agak tidak bisa di percaya kalau bagi Ariastella. Rasanya malah seperti penipuan, kalaupun ada hal seperti itu rasanya ini agak berlebihan. Tapi di dunia ini semua mungkin, jadi Ariastella menurut saja.

Perjalanan menuju tempat itu sekitar dua hari, mereka akhirnya memutuskan menggunakan portal, dan itu akan menghemat sekitar satu setengah hari. Karena di Kuil sihir di larang, lebih tepatnya itu larangan yang dibuat agar para jemaat yang datang lebih khusyuk dalam melakukan doa dan tidak terganggu dengan sihir.

Jadi, mereka akan membuat perjalanan dua hari itu menjadi setengah hari. Dengan portal mereka akan sampai di sebuah hutan yang memang biasanya menjadi tempat orang-orang membuka portal, sisanya mereka akan menggunakan kereta.

Loria tidak ikut dalam perjalanan ini, tapi Hillary ikut dan menggantikan peran Loria. Pamannya tidak jadi ikut karena harus menggantikan posisi sang Kakak yang sementara kosong karena pergi bersama Ariastella. Rei dan Ceilo ikut.

Sebuah portal besar dibuat oleh Rei dan beberapa penyihir Istana yang ikut. Sejujurnya Rei itu keren dan lihat saja Putri Duke yang mengejar-ngejar Rei, tapi semua menjadi minus karena sifat menjengkelkan yang Rei miliki.

Kereta itu perlahan masuk ke dalam portal, dan perlahan halaman Istana yang menjadi tempat mereka sebelumnya berubah menjadi hutan.

Terakhir dia berjalan-jalan dan tau bagaimana isi hutan adalah sebelum dia masuk ke Istana. Itu sudah sangat lama.

"Apa kau merasa mual?" Kaillos menatap Ariastella yang duduk di hadapannya.

Ariastella mengangguk. "Sedikit, tapi tidak apa-apa."

Sebuah ketukan berasal dari pintu kereta, itu Rei yang menyodorkan sebuah botol kecil pada Ariastella.

"Ini kali pertama, kau pasti mabuk." Rei menatap Ariastella yang sedikit berkeringat. "Kita akan tiba saat malam hari." Rei kini berpindah pada Kaillos.

"Pastikan semua baik."

Rei mengangguk, dia melirik Ariastella. "Apa?"

Ariastella menggeleng.

Rei hanya menatap Ariastella agak lama sebelum akhirnya turun dari kereta berisi Kaisar dan Putrinya.

Tidak, dia bukan marah pada Rei. Percakapan terakhir yang mereka lakukan memang tidak terlalu baik. Bahkan keduanya saling perang diam belakangan ini.

Ini adalah ramuan yang pernah Ariastella lihat, tepatnya ramuan yang Rei buat ketika Ariastella ada di sumur Penyihir itu. Bahkan seakan tau jika Ariastella akan mabuk.

"Sudah lebih baik?" Kaillos menatap Ariastella yang mengangguk setelah beberapa menit meminum ramuan tersebut.

Badannya mulai terasa hangat dan rasa pusing serta rasa tidak nyaman pada perutnya perlahan menghilang. Tidak salah Rei dikatakan sebagai penyihir terhebat Kerajaan.

"Tidurlah, ini akan memakan waktu yang cukup lama." Kaillos meraih beberapa berkas yang sengaja ia bawa. "Kau bertengkar dengan Rei?"

Ariastella menggeleng. "Tidak. Hanya ada sedikit salah paham."

Biasanya Ariastella dan Rei akan saling bercakap-cakap, walaupun hanya sebatas saling mengejek satu sama lain. Tapi belakangan ini mereka diam, bahkan tidak saling menyapa ketika bertemu. Ceilo juga bertanya tentang hal ini.

"Dia mungkin kelihatan tidak peduli." Kaillos menatap kertas-kertas ditangannya. "Dia peduli dengan cara berbeda."

"Iya, Ayah." Ariastella mengangguk. "Aku mengantuk."

Kaillos mengangguk, dia menatap Ariastella yang berbaring sebelum kembali pada kertas-kertasnya.

***

"Tuan Putri mabuk, ya?" Ceilo menjalankan kudanya disamping Masternya yang berada di atas kudanya.

"Hm. Kenapa? Kau juga mabuk?" Rei melirik Ceilo.

"Tidak." Ceilo tersenyum. "Kenapa Master tidak bilang saja kalau khawatir?"

"Kau mau jatuh dari atas kuda sekarang?" Rei melirik Ceilo yang menyengir. "Jangan isi kepalamu dengan hal aneh."

Ceilo tersenyum.

Perjalanan itu berhenti ketika jam makan siang tiba, mereka berhenti disebuah kota kecil.

Sebenarnya bisa saja mereka membuat portal langsung ke kota suci itu, tapi itu dilarang dan agar tidak mencolok satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah memotong jalan hingga ke hutan tersebut lalu berjalan sekitar setengah hari.

Ariastella turun dari kereta, rasanya seperti kota masa kecilnya dulu. Hanya kota kecil, tapi tampaknya ini lebih ramai dari kota ia tinggal dulu.

"Kau mau sesuatu?" Kaillos merubah warna rambut dan matanya menjadi hitam, begitu juga Ariastella yang diubah oleh Rei.

"Boleh berkeliling?" Ariastella matanya berbinar, ya setelah sekian lama dia tidak pernah pergi dari Istana ini kali pertama dan tentunya baru.

"Ajak Rei. Hati-hati." Kaillos menatap Ariastella yang mengangguk semangat. "Jangan terlalu jauh."

"Baik, Ayah!"

Ariastella berlari ke arah Rei, penyihir itu tampak berbincang dengan beberapa penyihir lain.

"Rei!" Penyihir itu menoleh. "Ayo jalan-jalan, Ayah sudah memberikan izin."

Rei berdecak. "Terakhir kali kau berjalan-jalan, kau hampir mati."

Ariastella menatap Rei dengan agak memelas. "Ayolah. Ini bukan Ibu Kota, hanya kota kecil. Tidak akan terjadi apa-apa."

Walaupun seperti menolaj ajakan Ariastella, Rei tetap diam dan mengikut saja saat Ariastella menarik tangannya.

Kota ini mungkin sedikit lebih ramai dari kota tempat ia tinggal dulu. Ada cukup banyak toko yang ada di sana, beragam dan sepertinya tidak mengecewakan untuk di coba.

"Ini!" Ariastella menyodorkan sebuah apel yang di baluri oleh karamel dan cokelat ke arah Rei. "Isinya buah, kau pasti suka."

"Aku tidak suka sesuatu yang manis." Walau begitu tangan Rei tetap meraih apel pemberian Ariastella dan memakannya. Ya, tidak buruklah.

"Enak?" Ariastella menatap Rei yang menghela nafas. "Enak, kan?"

"Hm." Rei membuang muka ke arah lain.

Ariastella tersenyum. "Aku tau kau pasti menyukainya."

"Kau seperti sangat tau saja." Rei meraih sapu tangan dari balik jubahnya, memberikan pada Ariastella. "Kau makan seperti anak berumur tiga tahun saja."

Ariastella berdecak. "Sampai kapanpun kau akan tetap menyebalkan." Ariastella membersihkan sisa karamel dan cokelat yang menempel di sekitar mulutnya. "Ini kota yang bagus."

Rei mengangguk. "Kota ini jadi ramai karena berada di dekat Kuil."

"Apa aku akan bisa sihir setelah pergi ke Kuil?" Ariastella memakan apel ditangannya. "Aku tidak terlalu berharap sih, tapi banyak yang seperti mengharapkan aku bisa menggunakan sihir."

"Itu karena kau akan punya perlindungan diri," Rei menatap orang-orang yang berlalu-lalang. "Kau tau kalau mereka sudah mulai berada dimana-mana. Tidak ada yang tau apa yang bisa mereka lakukan."

"Mereka pasti sangat kuat." Ariastella menatap sepatunya. "Aku pasti akan langsung kalah."

"Kau akan baik-baik saja." Ariastella menoleh ke arah Rei yang telah menghabiskan apel karamel tersebut dan membuang kayu kecil yang menjadi pegangan buah tersebut ke jalan.

Ariastella tersenyum. "Kau pasti akan menolongku, kan?"

"Pasti," Ariastella tersenyum bangga mendengar ucapan Rei. "Aku dibayar untuk itu."

Satu pukulan mendarat di bahu Rei. "Kau memang menyebalkan!"

. . .

26 Juli 2023

TAWS (2) - AriastellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang