“Kepulangannya adalah jalan menuju takdir yang selama ini ia nantikan.”
•°•°•°•°• Serambi Masjid•°•°•°•°•
-
-
-
Muhammad Fillah Sahef al-Anshari. Seorang laki-laki berumur dua puluh tiga tahun yang merupakan keturunan Arab-Indonesia. Memiliki perawakan yang tinggi semampai, hidung mancung, bulu mata lentik, serta iris indah berwarna oranye kecoklatan, dilengkapi lesung di kedua pipinya. Benar-benar tak terdeskripsikan bagaimana tampannya. Nyaris sempurna!
Fillah memiliki alasan tersendiri kenapa ia lebih memilih menjadi psikolog daripada menjadi seorang ustadz— diketahui jika ayahnya adalah orang yang berpengaruh dalam bidang agama dan merupakan pendiri pesantren.
Pertama, ia teringat pesan ayahnya yang mengatakan jika beliau memberi kebebasan tentang apa yang akan dipilihnya di masa depan, selama itu hal yang membawa kebaikan.
Ayahnya bernah berkata, "Anak dari Kyai tidak harus menjadi penerus pemilik pesantren. Orang pandai beragama tidak harus menjadi seorang ustadz. Kamu bisa menjadi apa yang kamu cita-citakan. Agama tidak melarang selagi itu membawa kebaikan. Sebab, mau kamu menjadi apa pun, kamu masih bisa berdakwah dengan caramu sendiri, tentunya dengan ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam. Di dalam dirimu ada da'i, terlepas dari apa pun profesimu. Ayah juga mengizinkan kamu untuk melakukan apa yang kamu suka. Jadilah apa pun yang kamu inginkan, asalkan kamu ingat bahwa kamu seorang hamba. Kamu melakukan semua itu semata-mata hanya untuk Allah, untuk menggapai ridha dan rahmat-Nya."
Kedua, Fillah sadar, banyak orang di zaman modern ini yang memiliki tekanan, baik secara mental atau fisik, muda atau tua. Banyak orang yang tidak menyadari, bahkan menyepelekan kesehatan mental seseorang. Permasalahan kesehatan mental memang masih tabu. Padahal hal tersebut mempunyai dampak yang terlampau buruk. Seperti yang sering ia dengar dari media sosial, berita, ataupun pernah melihatnya secara langsung bahwa sakit mental dapat merenggut nyawa seseorang.
Oleh karena itu, Fillah memilih menjadi psikolog untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang mungkin tanpa disadari mempunyai gangguan mental, dan belajar bagaimana cara menyikapi orang-orang seperti itu. Laki-laki itu rela meninggalkan keluarganya di Indonesia untuk menempuh pendidikan di Jeddah, tepatnya di King Abdulaziz University dan akhirnya menjadi lulusan psikologi klinis.
Fillah juga laki-laki yang sedari kecil selalu diajarkan untuk disiplin dan mandiri. Bahkan, dari usianya lima tahun dan keluarganya masih menetap di Madinah — tempat kelahirannya— Fillah justru dikirim ke asrama bersama sang kakak. Itu yang dilakukan oleh ayahnya untuk melatih kemandirian laki-laki itu. Menempatkan ia jauh dari keluarga yang otomatis membuatnya belajar mandiri.
"Kalian itu laki-laki, orang yang punya tanggung jawab besar di masa depan. Kalian harus mandiri sejak dini, jangan bergantung sama orang lain. Kalian harus menjadi laki-laki yang kuat fisik maupun rohani. Sebab, saat kalian besar, akan memikul begitu banyak tanggung jawab. Dan yang paling penting, kalian tidak boleh seenaknya menyakiti hati orang, apalagi perempuan, terutama Bunda dan adik kalian," pesan ayahnya saat mengantarkan ia dan kakaknya di hari pertama masuk asrama.
Fillah masih sangat ingat, dulu dirinya menangis tersedu-sedu karena tidak mau ditinggal, terutama oleh bundanya.
Dan Fillah rasa, sekarang tujuannya di tanah kelahiran sudah selesai. Berbagai ilmu sudah ia dapat. Ia juga merasa sudah cukup mandiri. Kini waktunya kembali ke tanah air, melepas rindu kepada keluarganya.
"Pekerjaan gimana? Kamu jadi kerja di sini?" Kakak laki-lakinya, Fahmi, bersuara, memecah keheningan di dalam mobil yang kini membawanya menuju pesantren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serambi Masjid
Teen Fiction[Romance] Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa. Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
