[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Yuk vote dulu sebelum membaca 😉
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Walaupun terlambat, akhirnya Fillah dan Ilana menetapkan hari untuk memulai perjalanan bulan madu mereka. Sebelum menuju negara tujuan, Fillah terlebih dahulu mengajak Ilana menunaikan ibadah umrah sekaligus mengunjungi kakek-nenek pihak ayah yang tinggal di Madinah, pada sepuluh hari menjelang Idul Fitri. Perjalanan ini pun menjadi pengalaman pertama mereka ke luar negeri semenjak empat bulan lalu pemerintah Indonesia resmi mencabut PPKM secara menyeluruh pasca wabah COVID-19.
Rangkaian ibadah umrah mereka berjalan dengan baik. Ilana dapat mencapai Multazam (sisi Kakbah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah) berkat bantuan Fillah dari belakangnya, pun menyempatkan diri beritikaf di pelataran Masjidil Haram untuk mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Di Madinah pula Ilana untuk pertama kalinya dapat memasuki Raudah—tempat yang diyakini sebagai taman surga dan terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam—hingga menumbuhkan rasa haru, rindu, dan kagum yang bercampur jadi satu, terutama ketika ia teringat pada sosok mulia yang di akhir hidupnya masih memanggil, "Ummatii." Kemudian, diakhiri dengan menginap di rumah kakek Fillah serta melaksanakan Idul Fitri bersama keluarga besarnya.
Tujuan yang paling dinanti sebagai destinasi bulan madu Fillah dan Ilana adalah Spanyol, negara di Eropa Barat yang pernah mengalami masa kejayaan Islam dan dikenal dalam sejarah sebagai Andalusia. Ilana amat terkejut sekaligus bersyukur ketika Fillah memberinya hadiah perjalanan itu, sebab sejak lama ia memendam keinginan untuk menginjakkan kaki di tanah Andalusia yang sering ia baca dalam buku-buku sejarah dan sastra Islam.
Kota pertama yang mereka kunjungi setelah mendarat di Bandara Adolfo Suárez Madrid–Barajas adalah Granada, wilayah di selatan Spanyol yang menjadi salah satu pusat terakhir kejayaan Islam di Eropa. Setelah semalam beristirahat di Hotel Alhambra Palace yang telah direservasi oleh Fillah, pagi harinya mereka memulai perjalanan menuju kompleks Alhambra yang berdiri megah di atas Bukit Sabika.
"Ini Yaseer," ucap Fillah, memperkenalkan seorang laki-laki berambut pirang keemasan namun berwajah khas Arab yang menghampiri mereka di depan Puerta de la Justicia, gerbang masuk menuju kompleks istana. Fillah menjelaskan singkat pada Ilana bahwa Yaseer adalah seorang muslim kelahiran Granada, putra dari ayah berdarah Maroko dan ibu Spanyol. Mereka pertama kali berkenalan saat menghadiri daurah hadis di Madinah beberapa tahun lalu.
"Selamat datang di Alhambra," ucap Yaseer beramah-tamah menggunakan bahasa Inggris beraksen Spanyol. "Hari ini saya akan menemani kalian menelusuri jejak Islam di Granada."