50 : Hilangnya Sebuah Percaya

5.1K 363 105
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~~

Terima kasih yang sudah setia menunggu lama cerita ini update ♡

Peringatan, untuk bab ini sampai beberapa bab selanjutnya adalah bab menuju klimaks, di mana mungkin mengundang emosi pembaca. Jadi, diharapkan kalian membaca bab ini jangan dalam keadaan badmood atau sedang memiliki banyak pikiran, terlebih saat puasa.

Semoga kalian bisa mengambil amanat dari setiap bab.

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah...

Jangan lupa untuk vote dan komen di setiap paragraf juga!

Tolong tandai kalau ada typo, ya^^

“Ada kalanya kita kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Namun, ingatlah bahwa ada Allah yang selalu menjadi peneman terbaik."

- Kalam Guzelim -

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

Fillah baru saja pulang dari perjamuan makan malam— yang diadakan sebagai tanda mensyukuri keberhasilan sekaligus mengakhiri pekerjaannya di Surabaya—ketika kabar mengenai Ustazah Marwah tanpa sengaja tersampaikan padanya. Di grup WhatsApp yang beranggotakan asatiz, musyrif, maupun pengurus Pesantren Al-Hidayah, mulanya ada seseorang yang keceplosan mengirim pesan tentang kondisi Ustazah Marwah, tetapi kemudian tak sedikit yang menanggapi hingga pembicaraan tersebut terbaca oleh Fillah. Ia bertanya pada mereka, tetapi ruang obrolan seketika senyap—tidak ada yang menanggapi. Pun ketika mencari tahu dari Ilana, Fahmi, dan Nabila, tidak ada yang berhasil dihubungi, kecuali Raihan. Dari sang sepupu lah pada akhirnya Fillah mengetahui kenyataan yang mampu meruntuhkan jiwanya.

"Kamu pulang saja, Fillah. Temui ibumu," ujar Dimas yang tengah berdiri di samping Fillah. Laki-laki berambut seperti brokoli itu juga tinggal untuk sementara waktu di mess yang Fillah tempati semenjak mereka terlibat dalam misi yang sama.

"Tapi, Dim ..., bagaimana dengan berita itu?"

Suara Fillah yang sedikit parau mengundang tatapan iba dari Dimas. Fillah pasti sedang sangat kalut sekarang. Setelah berhasil menjalankan misi yang cukup sulit guna membantu memecahkan sebuah kasus, Fillah dihadapkan dengan munculnya sebuah berita yang memuat namanya bersanding dengan nama klien yang ia tangani. Jelas itu murni kesalahpahaman. Fillah hendak menyelesaikan masalah tersebut agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar, akan tetapi kini laki-laki itu justru harus mendengar fakta yang lebih menyakitkan dari keluarganya.

"Kamu tenang saja, itu biar aku yang urus. Besok pagi, aku yang akan datang langsung ke perusahaan yang sudah memuat berita itu," jawab Dimas sembari menepuk pelan pundak rekan sejawatnya guna memberikan sejumput ketenangan.

Fillah terdiam sebentar, masih berada di antara keraguan dan kekhawatiran. Sepersekian detik, barulah ia berkata, "Terima kasih atas bantuannya, Dim. Aku percayakan itu padamu."

Pada akhirnya Fillah memutuskan untuk pulang secepatnya dengan memesan tiket kereta keberangkatan paling awal. Dimas ikut mengantar ke stasiun, sebab tidak ingin terjadi apa-apa pada Fillah yang masih dirundung kesedihan. Sebagai seorang rekan yang baik, Dimas juga tak hentinya memberikan kalimat afirmasi positif untuk Fillah.

Selama kurang lebih empat jam perjalanan menggunakan kereta, kedua mata Fillah sama sekali tidak terpejam lantaran rasa khawatir bercampur rindu pada Ustazah Marwah bergumul memenuhi benak. Tidak ada kata istirahat, melainkan dirinya terus bermunajat.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang