61: Hilang

4K 301 234
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca!
Untuk bab sebelumnya juga tolong vote-nya diseimbangkan 😉

Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah.

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

Kelopak mata berpagar lentik itu mengerjap dan perlahan-lahan terbuka, mempersilakan cahaya samar menyentuh retinanya. Rasa pening menghantam kepala, tapi Ilana berusaha untuk mengembalikan kesadaran. Penglihatannya langsung menangkap siluet seorang laki-laki dan perempuan yang tak jauh dari sana, bersamaan dengan sayup-sayup suara yang memenuhi keheningan di ruangan tersebut.

"Bagus juga berita itu keluar lagi. Kita jadi bisa manfaatin dia buat dapet duit," kata si perempuan.

Laki-laki di sebelahnya menyahut, "Suaminya aja kaya. Sayang kalo nggak diporotin."

Mendengar itu, Ilana beralih memandang kaki dan tangannya yang terikat tali tambang bak seorang sandera. Lebih parahnya saat menyadari bahwa ia hanya mengenakan pakaian yang terakhir dikenakan, tanpa kerudung dan cadar yang sudah tanggal entah ke mana.

Ilana berusaha memindai ke seluruh penjuru ruang remang-remang itu, mencari tahu kiranya ada di tempat apa.

"Hah, heran aja sampah kayak dia dapat orang tajir." Suara si perempuan melengking, menunjukkan rasa kesalnya.

"Makanya ide buat culik dia itu langsung gue setujui. Dia harus bayar semua ulahnya yang bikin kita sampai begini."

"Terus sekarang kita gimana?"

"Tunggu aja si Wira, dia yang atur semuanya."

Perempuan yang mengenakan celana di atas lutut itu mengangguk. Pandangannya memindai ke sekitar dan bertemu dengan tatapan Ilana. Segera ia menyenggol lengan si laki-laki untuk memberi kode.

"Eh, udah sadar, Neng?" ucap laki-laki itu tatkala memandang Ilana.

Mereka menghampiri sang sandera sembari menyunggingkan senyum miring. Si laki-laki berjongkok, lalu mengendus tepat di depan Ilana.

"Nggak mau teriak?"

Perempuan hamil itu diam saja dan terlihat tenang, sama sekali tidak memberontak. Meskipun harus bersusah payah melawan ketakutan dan segala bentuk sinyal trauma yang mulai datang, Ilana tidak ingin menunjukkan kelemahan, sebab itu akan menjadi kesenangan bagi mereka.

"Lagian kalo teriak juga nggak bakalan ada yang dengar," sahut si perempuan bercelana pendek diakhiri tawa melengking.

Si laki-laki mencengkram kuat dagu perempuan Ilana. Aroma rokok bercampur alkohol tercium dari pakaiannya, sama seperti dua tahun lalu. "Heh, lo masih ingat kita? Lo harus tanggung jawab buat dosa lo di masa lalu!" tukasnya.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang