[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terkadang, kita terlalu teguh agar menjadi tangguh untuk menutupi rapuh."
•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•
- - -
Ada saat-saat tertentu di mana Ilana merindukan kasih sayang bapaknya dulu. Kasih sayang yang ia dapatkan sebelum ada seorang wanita asing yang merebut semua kasih sayang itu.
Masih sangat melekat pada ingatannya dan tidak akan pernah ia lupakan, bagaimana Bapak mengungkap kebanggaan kepadanya. Bapak memberinya banyak kasih sayang yang tidak pernah ia sangka akan hilang semudah itu. Bapak menjadi cinta pertamanya, seperti perkataan orang-orang.
Di masa balitanya dulu, meskipun hanya sekilas ingatan, Ilana pernah duduk di pangkuan Bapak sembari mendengarkan cerita yang beliau ceritakan. Ilana merasa kagum setiap kali bapaknya menceritakan tentang bagaimana laki-laki itu mencintai mamanya dengan sangat dalam.
"Mama kamu itu wanita paling cantik, paling baik, dan paling cuek. Susah buat Bapak mendapatkan mamamu. Sampai akhirnya Bapak PDKT-in dia terus dan lama-kelamaan Mama jadi klepek-klepek sama Bapak."
Atau saat bapaknya mengungkapkan kebanggaan karena memiliki anak perempuan sepertinya.
"Jangan bilang-bilang mas-mu ya, kalau Bapak lebih sayang anak perempuan daripada anak laki-laki."
Atau saat bapaknya mengatakan tidak akan membiarkannya pergi ke manapun dan akan selalu menjadi orang pertama yang melindunginya.
"Nanti kalau kamu sudah besar, Bapak nggak akan biarin kamu pergi. Bapak nggak akan biarin orang lain menyakiti kamu. Kalau ada laki-laki yang mau memacari kamu, harus berhadapan sama Bapak. Kita interogasi tujuh hari tujuh malam."
Ilana sadar, perkataan Bapak hanyalah kebohongan belaka. Hal yang Bapak janjikan kepadanya tidak beliau tepati. Bagaimana Bapak bisa melindunginya dari orang-orang yang menyakitinya, sementara beliau sendiri yang sering menyakitinya? Bapak sendiri yang sudah menghancurkan hati anak yang katanya paling beliau cintai. Bapak sendiri yang membuatnya selalu ingin pergi.
Nyatanya, semarah apa pun Ilana kepada bapaknya, seberapa banyak bapaknya melukainya, Ilana tetap menyayangi Bapak. Sebab, ia bisa benar-benar mencintai seseorang, tapi ia tidak bisa benar-benar membenci seseorang.
Namun, Ilana pun tidak mengerti, kenapa ia tidak mengeluarkan air mata setetes pun tatkala memandang raga Bapak yang mulai dimasukkan ke liang lahat. Dadanya seperti dihimpit oleh batu besar, goresan luka di hatinya kembali terasa perih. Jiwanya ingin menangis, namun entah kenapa otaknya tidak mau memberi sinyal untuk mengeluarkan air mata.
Ilana hanya menatap kosong prosesi pemakaman Bapak. Mulutnya tertutup dan tak banyak bicara bahkan semenjak ia sampai di rumahnya tadi sore.
Suara tangis sanak saudara terdengar begitu pilu seolah menjadi lagu pengiring ketika Cakra dan Fillah serta dibantu oleh beberapa orang lainnya mulai menimbun liang lahat Bapak, menutup jasad yang terbungkus kain kafan itu untuk dikebumikan. Jerit parau kakak kandung Bapak terdengar begitu menyakitkan, tidak mau sosok adiknya itu meninggalkannya.