[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Yuk vote dan follow akun author dulu sebelum membaca 😉
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
“Bersemilah seperti musim dan mekarlah seperti bunga.”
~ Fillah Sahef ~
_________ Serambi Masjid __________
- - -
"Buenos días, Córdoba!"
Ilana menyapa fajar dari balik pintu balkon hotel yang berterali. Udara musim semi yang sejuk menelusup pori, membawa serta aroma embun pagi dan samar wangi orange blossom yang belum terjemur matahari. Manik hitamnya berbinar menatap Mezquita Cathedral de Córdoba yang berkilau keemasan tepat di hadapan.
"Buenos días, mi amor."
Suara dari belakang membuat Ilana menoleh. Kurva bibirnya sontak membentuk senyum hangat ketika melihat sosok laki-laki tampan kesayangan yang baru selesai berwudu. "Buenos días, mi vida," balasnya penuh kasih.
"Apa artinya?" tanya Fillah, pura-pura tak paham. Ia meraih outer tebal di kursi, lalu menyampirkannya ke pundak Ilana mengingat suhu saat ini mencapai dua belas derajat celsius yang menusuk tulang.
Ilana memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan terjemahan 'Selamat pagi, hidupku.'
"Sekarang bisa gombal juga, ya," komentar si suami diiringi senyum tipis.
"Tertular Mas," sahut Ilana cepat dan sukses membuat tawa Fillah pecah. Tawa yang resonansinya menghangatkan udara tatkala menyadari bahwa perempuan kaku itu telah menjadi perayu.
"Mas," panggil Ilana tatkala sang suami memposisikan diri di sampingnya dan ikut menatap ke luar. "Nggak terbayang ya, dulu di menara itu pernah berkumandang azan." Ia menunjuk puncak Mezquita Cathedral yang kini menjadi tempat lonceng gereja berdentang menggantikan suara muazin.
Fillah memandangi arah yang sama, lantas mengangguk. Pemandangan para cendikiawan dan orang-orang muslim yang berbondong-bondong menuju masjid terbesit dalam benaknya. "Pastinya penuh sukacita setiap menyambut waktu salat, Kiya. Tidak harus menggunakan alarm seperti kita tadi."
Ilana tersenyum tipis, lalu mengembuskan napas panjang. Ada nada sayang dalam lirihnya. Ingin sekali ia bisa merasakan salat di masjid besar di hadapan mereka itu, tapi kenyataan berkata sebaliknya; bangunan megah itu kini telah berubah menjadi katedral dengan patung dan salib di dalamnya.
Akhirnya, mereka menunaikan salat Subuh berjamaah di kamar hotel, menghadap arah kiblat yang masih sama seperti yang ada di mihrab Mezquita Cathedral.
Saat sang surya menduduki takhta, Fillah dan Ilana keluar dari hotel untuk mencari sarapan di restoran halal. Tak perlu berjalan jauh, mereka kembali menikmati hidangan bergaya Maroko, yaitu roti pipih hangat yang dilapisi madu atau biasa disebut msemen, telur rebus, bissara yang terbuat dari kacang fava, minyak zaitun, dan teh mint yang harum.