19 : Genggaman Tangan

23.7K 2.6K 193
                                        

“Setetes air matamu yang jatuh laksana satu tikaman pisau yang membuat tubuhku seakan lumpuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Setetes air matamu yang jatuh laksana satu tikaman pisau yang membuat tubuhku seakan lumpuh.”

— M. Fillah Sahef al-Anshari

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-

Sudah tiga hari Fillah disibukkan dengan kegiatannya mengurus Ilana yang berangsur-angsur membaik. Demamnya sudah turun dan suhu tubuhnya kembali normal. Ilana sudah mau makan meski kadang harus dipaksa terlebih dahulu. Ilana juga sudah mau diajak bicara dan terkadang tersenyum meski yang ditampilkan hanya senyuman kaku.

Hanya saja, kondisi mentalnya yang jauh dari kata stabil. Emosinya belum bisa terkontrol dengan baik. Ilana kerap kali juga berteriak dan menangis tiba-tiba, meski tidak seburuk hari-hari sebelumnya. Mentalnya masih harus mendapatkan begitu banyak perawatan.

"Iya, Bund. Fillah izin cuti untuk beberapa hari lagi." Fillah berucap pada bundanya di seberang telepon.

"Iya, nggak apa-apa. Atasan kamu pasti ngertiin," sahut Ustadzah Marwah. Beliau sudah tahu bagaimana keadaan menantunya saat ini, jadi beliau memakluminya. "Oh ya, gimana kabarnya Ilana?" tanya Ustadzah Marwah kemudian.

Fillah sedikit menoleh ke arah belakang tepat di mana Ilana tengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Kemudian menjawab, "Alhamdulillah, Kiya sudah kembali sehat, Bund. Niatnya Fillah mau panggil psikiater untuk memeriksa keadaan Kiya."

"Alhamdulillah. Memang Ilana mau?"

"In Syaa Allah."

Ada jeda di sana. Ustadzah Marwah diam sejenak. Fillah setia menunggu.

"Oh ya, Nak. In Syaa Allah, Bunda sama abang kamu besok ke sana. Mbak ipar kamu nggak bisa ikut, nanti Hanin malah rewel." Ustadzah Marwah memberitahu.

"Nggak apa-apa, Bund. Dengan Bunda datang, semoga membuat Kiya tambah bersemangat."

"Aamiin, Bunda harap begitu," ucap Ustadzah Marwah. "Kalau begitu, Bunda tutup dulu teleponnya, ya? Bunda masih ada pekerjaan."

"Iya, Bund. Bunda jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan."

"In Syaa Allah, Nak. Titip salam buat Ilana. Bunda tutup teleponnya. Wassalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Fillah mematikan sambungan teleponnya, kemudian meletakkan benda pintar itu ke atas nakas. "Kiya," panggilnya, melangkah menghampiri Ilana yang membuat perempuan itu melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali memandang ke depan.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang