55: Perempuan yang Mencinta

3.9K 321 301
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Terima kasih yang sudah setia menunggu cerita ini update ♡

Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca!

5000 kata, semoga bisa mengobati rindu kalian.

Tolong komen di setiap paragraf, serta tandai jika ada typo!

Bab ini masih menuju klimaks, jadi disarankan kalian membacanya dalam keadaan emosi yang baik. Semoga juga bisa sabar dan bertahan. Ambil baiknya, buang buruknya.

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah.

Kau boleh menyelam dalam cinta, tapi jangan sampai tenggelam hingga takwamu binasa.”

— Kalam Guzelim —

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

"Ibu-Ibu, sudah tahu, belum, kalau kemarin itu banyak polisi berkeliaran di pesantren ini?"

Matahari sudah bertakhta tepat di atas kepala, tiga ibu rumah tangga masih tak jemu untuk bergosip saat lewat di depan kawasan Pesantren Al-Hidayah. Tentu saja kejadian tempo hari, di mana Ilana menjadi tersangka atas kemalangan Ustazah Marwah, turut menggemparkan lingkungan sekitar pesantren. Bahkan, saat proses penyidikan pun sukses menjadi tontonan warga.

"Iyo, ngerti, Jeng. Tek kandani yo, jarene onok kasus pembunuhan," sahut perempuan berkerudung biru dongker. (Iya, ngerti, Jeng. Kuberi tahu ya, katanya ada kasus pembunuhan).

"Ih, ngeri ya, Bu, sama pesantren zaman sekarang. Dulu niatnya saya mau mondokin anak saya ke sini karena kata orang-orang, banyak alumni Pesantren Al-Hidayah yang sukses jadi dai hebat. Tapi, setelah ada kejadian mengenaskan itu, saya nggak mau mondokin di sini." Perempuan paruh baya berkerudung hitam ikut berkomentar sembari bergidik ngeri. Membayangkan anaknya menimba ilmu di pesantren itu, ia khawatir sang anak akan terbawa dalam arus kesesatan.

Sembari menendang-nendang kerikil ke arah gerbang pesantren modern di hadapannya tersebut, perempuan berkerudung marun menambahkan,"Iya, Bu, saya juga. Kasihan anak saya kalau nanti ada apa-apa. Apalagi ini katanya menantu Ustadzah sendiri yang melakukan percobaan pembunuhan."

Pembicaraan tak berfaedah itu berlangsung khidmat tak ubahnya menikmati hidangan lezat—yang ternyata daging saudaranya sendiri. Hingga derap langkah kaki yang keluar dari dalam pesantren pun tidak mampu menginterupsi.

"Assalamualaikum."

"Wa-waalaikumussalam." Tiga perempuan paruh baya itu tergagap mendapati dua laki-laki jangkung yang tiba-tiba muncul. Senyum di bibir mereka seketika luntur, lekas tergantikan raut keramah-tamahan palsu.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang