[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Yuk vote dulu sebelum membaca 😉
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
“Langkah paling berani adalah yang diambil saat rasa takut masih ada.”
_________ Serambi Masjid __________
- - -
"Maaf, Mas, Ila pulang duluan. Sekarang Ila di rumah sakit."
Tubuh Fillah seketika menegang. Jantungnya melonjak. Matanya terbelalak.
"Kiya, Kiya. Di rumah sakit mana? Kamu kenapa?" Suaranya bergetar, cemas bercampur takut.
"Rumah Sakit Widyatama. Ila—"
Belum sempat Ilana menyelesaikan kalimatnya, panggilan telepon tiba-tiba terputus. Suara itu lenyap, digantikan bunyi tut-tut monoton yang menusuk telinga. Ia menatap layar ponsel tak percaya, jari-jarinya bergetar. Otaknya dipenuhi pertanyaan akan apa yang terjadi dengan Ilana sampai tak sempat menjelaskan.
Fillah mulai kalut saat kembali menelepon nomor istrinya tapi tak terhubung dan hanya terdengar suara operator. Napasnya jadi sedikit memburu, keringat dingin merembes di pelipis meski cuaca sore itu tak terlalu panas.
Tak tunggu lama—terlebih lantaran pekerjaannya telah rampung—Fillah lekas beranjak meninggalkan biro. Zaki dan Dinda yang sempat menawarkan diri ikut menemani, ia suruh langsung pulang saja. Benaknya terlalu berkecamuk untuk berpikir jernih. Ia buru-buru menyalakan sepeda motor, menekan gas tanpa banyak pertimbangan. Waktu tempuh yang seharusnya lima belas menit, ia pangkas menjadi tidak genap sepuluh menit.
Begitu tiba di rumah sakit, langkahnya yang terburu-buru membawa ke bagian resepsionis. Dengan napas yang masih terengah, ia bertanya tentang nama lengkap Ilana beserta beberapa detailnya.
"Mohon maaf, Pak, tidak ada pasien dengan nama Ilana Adzkiya," ulang petugas resepsionis setelah meneliti nama-nama pasien untuk ketiga kalinya seperti permintaan Fillah.
Sebelum sempat meminta petugas itu mencari ulang, ponselnya bergetar. Nama Ilana terpampang jelas di layar. Tanpa pikir panjang, Fillah segera mengangkat.
"Maaf, Mas, maksud Ila—"
"Kamu di mana, Kiya? Kamu kenapa? Di ruang apa?" potong Fillah cepat, suaranya bergetar panik.
"Ila di depan ruang bersalin."
Mendengar itu, Fillah lekas berjalan cepat menelusuri koridor rumah sakit. Panggilan telepon sengaja tak ia tutup, sehingga suara napas terengah dan gesekan langkahnya ikut terdengar di seberang sana.