[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Yuk vote dulu sebelum membaca 😉
Bab selanjutnya akan dipublikasikan setelah vote pada bab 64 dan 65 (bab ini) mencapai minimum 350 dan komentar minimum 650.
Ramaikan juga komentar atau reaksi di setiap paragraf, ya!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
“Pada dasarnya, hidup akan terus berlanjut jika kita menjalaninya.”
— Cakra Adiguna —
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Fillah tidak menyangka akan berada di posisi canggung seperti ini dengan Ilana. Tak ada sepatah kata pun yang mengudara, menyisakan detak jam dinding yang bersuara.
Lebih dari sembilan puluh jam telah berlalu semenjak Ilana terbangun dari koma. Dokter menyampaikan bahwa fungsi vital Ilana telah kembali normal dan kondisinya berangsur membaik. Sungguh keajaiban perempuan itu berhasil keluar dari masa kritis di saat sempat mengalami komplikasi dan sadar dalam keadaan yang tidak amnesia mengingat benturan keras di kepalanya.
Tak letih Fillah bersyukur akan hal tersebut. Tatapannya tak lepas dari Ilana yang sejak tadi menatap kosong ke jendela. Sesekali perempuan itu beralih menatap televisi yang menyala walau lebih sering tak diacuhkan. Sesekali juga—secara diam-diam—memperhatikan Fillah yang duduk gusar di sofa.
Fillah berusaha memutar otak, mencari kalimat yang sesuai untuk memecah keheningan. Tidak ada interaksi di antara mereka berdua, lebih tepatnya Ilana yang tak ingin membuka diri sekalipun Fillah mengajak bicara. Selain kesulitan memberi tahu kabar duka tentang anak mereka yang tidak lagi ada, Fillah harus menghadapi Ilana yang enggan menatap wajahnya.
Tarikan napas berat dari laki-laki itu membuat Ilana lagi-lagi melirik dari ujung mata. Namun tetap saja keheningan masih bertahan, sampai akhirnya orang lain lah yang mengakhirinya.
"Permisi."
Seorang perawat perempuan masuk ke kamar inap eksklusif tersebut dengan mendorong troli. Fillah serta-merta berdiri, membiarkan perawat untuk memeriksa aliran infus sang istri. Diamatinya wajah Ilana yang mengulas senyum teramat tipis sembari membalas pertanyaan si perawat. Tanpa sadar laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya—cukup senang bahwa setidaknya sang istri tidak lupa caranya tersenyum dan mau berbicara dengan orang lain.
"Pak," panggil perawat itu membuat Fillah lekas mendekat. "Tolong pastikan istri Anda memakan makanannya. Jika istri Anda merasa nyeri atau sakit, Bapak bisa berikan obat antinyeri ini. Dan jika terjadi lonjakan kemarahan seperti beberapa hari lalu, Bapak bisa langsung panggil perawat atau dokter."