[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•
- - -
"Biar Ila yang masak saja, Gus."
"Nggak, Kiya. Kamu nggak boleh masak."
"Tapi, Ila pengin masak, Gus."
"Kapan-kapan, ya? Sekarang jangan dulu."
"Tapi, Gus--"
"Kiya..."
Pagi ini suasana dapur dipenuhi oleh suara Fillah dan Ilana yang sedikit bertikai. Sedari tadi Ilana terus bersikukuh untuk memasak, lantaran hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Sedangkan Fillah tentu saja melarangnya. Laki-laki itu tidak mau mengambil risiko jika nantinya terjadi apa-apa pada istrinya.
"Ila bantu sedikit saja kok, Gus," kukuh Ilana.
"Tetap nggak boleh," larang Fillah tanpa menoleh kepada Ilana yang dari tadi berdiri di sampingnya. "Sekarang kamu duduk saja. Lagipula, sebentar lagi makanannya jadi," sambungnya.
Ilana tidak menyahut ataupun menuruti perintah suaminya. Ia tetap berdiri di tempat dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut lucu. Padahal ia sudah sangat bersemangat membuat makanan kombinasi yang dipelajarinya dari YouTube. Tapi, larangan Fillah membuat semangat itu sirna. Ia merutuki dirinya sendiri yang pernah nekat ingin bunuh diri, membuatnya tidak bebas lagi.
Sedangkan Fillah yang merasakan keberadaan Ilana di sampingnya, hanya tersenyum tipis. Tetap sibuk melakukan kegiatannya, memasukkan buah kismis kering ke dalam dua mangkuk berisi oatmeal.
"Mau?"
Kepala Ilana menoleh, melihat Fillah yang sudah menghadap kepadanya dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajah, sembari menyodorkan kepadanya setengah potong buah apel yang ditusuk garpu.
Menganggukkan kepala, Ilana membuka mulutnya saat Fillah menyuapinya buah apel tersebut. Namun, netra coklat legamnya langsung terbelalak ketika Fillah memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga hanya menyisakan dua sentimeter, dan menggigit buah itu di sisi yang lain. Hidung mancung Fillah bergesekan dengan hidung Ilana, bahkan sedikit lagi mungkin bibir mereka akan saling bersentuhan.
Alamak!
Terdiam cukup lama, Ilana segera memundurkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya yang pias, sedangkan Fillah melahap sisa buah apel yang ada di garpu. Laki-laki itu tersenyum tipis di sela-sela kunyahannya. Sebenarnya ia sengaja melakukan hal beberapa detik yang lalu, lantaran ingin membalas perlakuan Ilana yang dengan seenaknya mencium pipinya kemarin.
"Gus, itu--"
"Sunnah," kata Fillah singkat.
Raut wajah Ilana berubah menatap Fillah bingung. Seolah menuntut penjelasan dari suaminya.