58: Porak Poranda

5.1K 337 418
                                        

Selamat data kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat data kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Terima kasih yang sudah setia menunggu cerita ini update ♡

Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca!

Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!

Karena bab ini sebenarnya untuk minggu depan, jadi update selanjutnya setelah bab 56, 57, dan 58 (bab ini) mencapai vote 400+ dan komentar 500+

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah.

“Luka dalam cinta bukan akhir segalanya, melainkan cara Allah mengarahkan hati menuju penyembuhan dan kedewasaan.”

— Fillah Sahef —

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

Kehilangan adalah luka yang tak kunjung sembuh.

Kata orang, kehilangan adalah bagian dari hidup. Suatu keadaan yang akan membuat yang ditinggal akan merasa terbiasa seiring berjalannya waktu. Namun, bagi Ilana, kehilangan bukan sekadar ditinggal mati, melainkan lebih dari itu. Hidupnya berhenti pada hari mamanya pergi, turut membawa serta semua bahagia dan kenyamanan yang ia miliki. Tidak benar-benar berhenti, tentu saja, tapi terasa seperti itu.  Mama adalah satu-satunya tempat ia merasa pulang, satu-satunya 'rumah' yang selalu melindungi dan tak pernah menyakitinya.

Ilana tidak tahu bagaimana cara bertahan tanpa Mama. Dunia tiba-tiba menjadi terlalu besar, terlalu menakutkan. Warna-warna indah kehidupan seketika buyar, terganti dengan bermacam penderitaan yang tak berkesudahan.

Mengapa penderitaan ini harus datang? Mengapa harus Mama yang pergi? Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang bisa mengerti, bahkan dirinya sendiri.

Pernah suatu hari ia bertanya pada Cakra, "Mas, bagaimana jadinya andai Mama masih ada, kita bahagia, dan Ila nggak nikah muda?"

"Kowe ngomong opo seh, Dek?"

"Mas dulu pernah bilang kalau Mama sempat mendapat donor, tapi harus menyerahkan ke orang lain yang lebih membutuhkan? Seandainya Mama menerima donor itu, pasti Mama masih hidup, 'kan, Mas?"

Saat itu, Cakra tak langsung menjawab, terjadi interval selama beberapa saat.

"Jangan berandai-andai sama orang yang udah nggak ada. Yang terjadi sekarang, itu takdir kita." Jawaban itu yang keluar dari mulut sang kakak.

"Kalau Ila belum bisa ikhlas kehilangan Mama?"

"Cobalah untuk move on atas kepergian Mama, Ilana. Kamu yang akan tersakiti kalau tetap ada di titik ketidakikhlasan itu."

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang