56: Menebus Harga Diri

3.8K 318 287
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Terima kasih yang sudah setia menunggu cerita ini update ♡

Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca!

Tolong komen di setiap paragraf, serta tandai jika ada typo!

Bab ini masih menuju klimaks, jadi disarankan kalian membacanya dalam keadaan emosi yang baik. Semoga juga bisa sabar dan bertahan. Ambil baiknya, buang buruknya.

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah.

“Cinta sejati tak akan pernah memintamu menggadaikan harga dirimu. Jika ia memaksa, biarlah ia lenyap, sebab harga diri jauh lebih tinggi letaknya dibandingkan cinta.”

— Kalam Guzelim —

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

Suara jeritan nyaring diiringi rintihan menggema di lorong sel penjara, menarik atensi para tahanan pada satu sumber yang sama. Waktu masih pagi, tapi kegaduhan sudah terjadi di sel yang berjarak dua ruangan dari sel Ilana ditempatkan.

Tak lama, satu-dua sipir mulai berlarian ke sel tersebut, sedangkan tahanan di sel-sel lain merapat seperti gerombolan semut di dekat jeruji besi dengan penuh rasa penasaran. Kemudian datang lagi satu sipir membawa tandu dengan tergesa-gesa, menandakan bahwa kondisi orang yang berteriak tadi termasuk parah.

Saat tiga sipir itu lewat, dapat dilihat seorang tahanan yang digotong oleh mereka tampak begitu kesakitan. Darah segar mengalir di pelipisnya sampai ada yang menetes di lantai. Ia mengerang sembari memegangi kaki yang mungkin patah. Sedang di sekeliling ikut ramai: ada yang menggunjing—mengatakan perempuan sakit itu hanya berpura-pura, menutup telinga dan mata karena ngeri, maupun berempati.

Ilana tidak tertarik melihatnya langsung, ia lebih tertarik menatap pantulan cahaya matahari yang menerobos melalui lubang udara. Namun, Ilana tahu betapa sakit tahanan perempuan itu hanya dari suara yang ia dengar.

Pertengkaran, pergulatan, maupun perundungan sudah tak jarang terjadi di rumah tahanan. Mereka menyebut itu sebagai ucapan selamat datang dari tahanan 'senior' kepada tahanan baru. Jika kasusnya tahanan itu menyakiti tahanan lain hingga terluka parah dan ketahuan oleh sipir, tentu hukuman yang didapat di pengadilan nanti akan lebih berat.

Beruntung Ilana tidak mendapatkan kekerasan dari teman satu sel semenjak ia datang, melainkan sebatas gunjingan saja. Namun, tiba-tiba Ilana teringat pada Dewi, ibu sambungnya yang kini sudah berada di lembaga pemasyarakatan setelah mendapat vonis hukuman. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia bernasib sama seperti Ilana, atau justru seperti tahanan yang terluka parah tadi? Ilana berharap Dewi tidak bersama dengan penjahat kelas kakap. Bagaimanapun, Ilana sadar, ia menyayangi Dewi seperti ibu sendiri.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang