[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca! Untuk bab sebelumnya juga tolong vote-nya diseimbangkan 😉
Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
“Ketika memilih, pertimbangkan dengan baik. Ketika sudah memilih, jangan berpaling pada hal lain yang menarik perhatianmu. Sebaliknya, jatuh cintalah pada pilihanmu, cari tahu alasan awal memilihnya, dan terima semua konsekuensi yang ada.
Kadang kita salah paham dalam memaknai takdir-Nya. Namun, percayalah, apa yang telah Dia tetapkan adalah yang terbaik.”
—Serambi Masjid—
~
“Delapan belas tahun menempuh pendidikan, dengan beragam makalah, satu skripsi, dan satu tesis, tapi aku masih saja salah membaca. Kamu menulis, 'Semoga Kakak menemukan orang lain yang lebih dariku', tapi aku membacanya, 'Aku akan selalu menunggu kepulangan Kakak'. Tapi, setelah aku kembali, kamu telah orang lain miliki.”
—Habib Adhitya—
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Ada suatu masa lalu yang tidak ingin Ilana lihat kembali. Menilik sedikit pun ia enggan. Masa lalu itu menggerogoti jiwa, menimbulkan rasa takut yang entah kapan sembuhnya, meninggalkan keheranan yang sampai saat ini pun Ilana tidak mengerti di mana letak kesalahannya.
Dua tahun lalu, saat Ilana menginjak kelas 2 SMA, kejadian yang tak menyenangkan itu terjadi. Tanpa memiliki seorang pun teman yang benar-benar tulus—hanya mereka yang sekadar memanfaatkan—Ilana memilih menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai lomba di sekolah. Demi membiayai beberapa lomba tersebut, ia bahkan sempat bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan ayam, sebab kiriman uang dari Malik, selalu diambil sepenuhnya oleh Dewi.
Tak disangka, rumah di seberang tempat kerja Ilana ternyata sebuah rumah bordil. Ia sering keluar-masuk ke sana untuk mengantarkan pesanan, hingga suatu hari menemukan fakta mengejutkan: beberapa kakak kelas yang ia kenal—baik laki-laki maupun perempuan—ternyata bekerja di sana sebagai kupu-kupu malam.
Mereka yang mengenali Ilana—karena namanya sering terpampang sebagai pemenang lomba—tak ingin rahasia mereka terbongkar. Alhasil mereka memaksa Ilana untuk berfoto bersama sebagai jaminan.
Hingga akhirnya, insiden itu terjadi. Rumah bordil tersebut digerebek oleh polisi. Nama Ilana ikut terseret, pun foto di rumah bordil itu tersebar luas sebab kakak-kakak kelasnya mengira ia yang telah berkhianat dengan membuka mulut. Saat kabar itu sampai ke pihak sekolah, alih-alih memberikan bimbingan, mereka justru memilih untuk mengeluarkan siswa-siswa yang terlibat, kecuali Ilana. Sekolah ingin menjaga nama baiknya—terlebih Ilana adalah "anak emas"tidak yang sering mengharumkan nama mereka.