[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca! Untuk bab sebelumnya juga tolong vote-nya diseimbangkan, ya 😉
Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Dalam setiap masa lalu yang penuh rasa sakit dan kehilangan, bisa jadi kau akan menemukan sesuatu yang berharga: pelajaran, pemahaman, serta penerimaan yang abadi dan mampu membentuk karakter maupun masa depanmu.”
— Fillah Sahef —
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Takdir. Manusia memang tak bisa menentukan apa yang disebut takdir. Namun, manusia selalu diberi kuasa untuk memilih ke mana akan melangkah. Ada yang memilih untuk tetap bertahan karena merasa hidup ini menyenangkan. Ada juga yang memilih untuk mengakhirinya karena tak pernah menemukan alasan untuk bahagia.
Hidup pada akhirnya selalu tentang memilih. Memilih untuk diam atau melangkah, untuk mengingat atau melupakan, untuk membuka kembali luka lama atau membiarkannya tetap tertutup. Setiap keputusan, sekecil apa pun, membawa pada jalan yang tak bisa diputar kembali.
Ilana tahu, memercayai surat dari Tyas bukan ide baik. Ia bisa saja melewatinya, membiarkan kertas-kertas itu tetap terkubur di belakang asrama dan dimakan cacing tanah. Seharusnya Ilana tidak terpengaruh oleh ancaman Tyas. Seharusnya ia bisa menahan barang sedikit saja rasa keingintahuannya, sehingga tidak ada bumerang dalam hubungannya dengan Fillah. Setidaknya ia tidak tahu sampai suaminya itu sendiri yang memberi tahu.
Namun, kini percuma saja. Kalimat penyesalan tak mampu menyelamatkan Ilana yang terdampar di ruang gelap nan sunyi itu. Bersusah payah ia mencari jalan keluar, tapi tak sedikit pun cahaya yang datang. Tidak terhitung berapa lamanya ia berjalan menyusuri lorong tersebut, tapi tak kunjung menemui ujung.