[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca! Untuk bab sebelumnya juga tolong vote-nya diseimbangkan, ya 😉
Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kita mengira seseorang akan selalu ada, hingga semesta memberikan kehilangan sebagai cara agar kita menghargai kehadirannya.”
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Suara rintik yang berlomba-lomba jatuh ke bumi membelah kesunyian subuh itu. Seperti memberi timing yang pas pada seorang anak laki-laki usia sebelas tahun untuk berlarian di lorong sepi rumah sakit sembari membawa botol infus di salah satu tangannya. Pembicaraan sang ayah-bunda bersama seorang dokter mengenai operasinya yang akan dilaksanakan lusa, mendorong rasa takut dalam diri hingga ia memilih kabur diam-diam.
Anak laki-laki berwajah pucat itu berhenti dan duduk bersimpuh di samping kursi besi lantaran sesak kian memenuhi dadanya. Perlahan bulir air mata membasahi pipi yang semakin tirus itu. Rasa lelah berjuang melawan penyakit serta rasa bersalah atas kematian seseorang bercampur menjadi satu, membuat suara tangis yang tertahan darinya makin terdengar memilukan.
Seperti tak membiarkannya berlarut-larut, sebuah bayangan tiba-tiba menghalau pencahayaan menuju ke arahnya. Tangis anak laki-laki itu pun mulai terhenti tatkala kepalanya mendongak lalu menemukan sosok anak perempuan kisaran usia lima tahun dengan rambut dikuncir dua yang tidak seimbang.
Pandangan mereka saling bertemu. Satu, dua, hingga tiga detik, tak satu pun yang berkedip. Si gadis kecil tampak begitu polos menatap anak laki-laki itu yang masih bersimpuh. Tak lama, ia memilih pergi dengan berlari-lari kecil.
Bukan tempat di mana keluarga si gadis kecil berada, melainkan meja resepsionis yang dituju. Mulut tipisnya mengeluarkan suara lembut pada orang dewasa yang tengah berjaga di balik meja tersebut. "Suster, tolong pinjamkan pulpen."