04 : Terbiasa

27K 3K 144
                                        

“Dalam menuntut ilmu, lelah sudah pasti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Dalam menuntut ilmu, lelah sudah pasti. Namun, jika sepenuh hati, maka berkah mengikuti.”

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-

Menjadi seorang santri tidaklah mudah bagi seorang Ilana Adzkiya. Banyak hal pahit dan manis yang ia alami selama hampir enam bulan di pesantren. Mentalnya kembali diuji dan tertekan oleh peraturan-peraturan pesantren. Tetapi, lebih baik daripada tekanan yang ia rasakan di rumahnya.

Di pesantren, Ilana diajarkan untuk hidup sederhana dan apa adanya. Lebih disiplin dengan waktu dan tentunya untuk hal yang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Ia juga mendapatkan banyak ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Ilana juga mengalami apa yang biasa dialami oleh anak pesantren. Mulai dari cuciannya yang digeser sebelum kering entah oleh siapa. Sandal atau hanger-nya yang di-ghosob berkali-kali. Didahului mandi oleh santri lain padahal ia yang sudah mengantre lama, dan hal-hal lainnya.

Kehidupan kuliahnya juga lancar. Ia bahkan sudah beberapa kali mengikuti lomba dan membuat pakaian syar'i yang kemudian menjadi konsumsi untuk para santriwati. Meski ada juga orang yang iri dan sering mengusiknya sebab karyanya yang sering dipuji, Ilana pikir itu hal biasa karena di manapun pasti ada sebuah persaingan. Ia tidak ingin terlalu memikirkannya, sebab yang terpenting adalah untuk tetap menimbah ilmu di tempat penuh berkah ini.

"Astaghfirullah, banyak banget cucianmu, Na," ujar Ilana saat melihat Muna keluar dari asrama dengan membawa pakaian kotor yang sudah menumpuk lebih banyak dari biasanya. Mereka berniat untuk mencuci pakaian setelah makan siang.

"Hehe, aku nggak cuci baju hampir dua minggu, La. Kamu tahu sendiri, tugas kuliahku banyak banget akhir-akhir ini," balas Muna sembari menyernyih. Ia tampak kesusahan membawa ember yang penuh pakaian kotor itu.

"Kenapa nggak laundry saja kalau kamu nggak sempat cuci manual?"

"Biar hemat, La, keuanganku menipis. Mamaku belum ngirim lagi."

"Ya sudah, kalau gitu nanti aku bantuin kamu nyuci kalau cucianku sudah selesai."

"Eh, nggak usah," tolak Muna, menggelengkan kepalanya tiga kali. Sedetik kemudian, "Tapi, kalau kamu maksa, nggak apa-apa, sih hehe," lanjutnya, membuat Ilana tersenyum kecil.

"Ya sudah yuk," ajak Ilana, Muna mengangguk.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat cuci pakaian. Hanya berdua, sebab Hanum sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang juga banyak, sementara Yesi sedang melakukan tugas piketnya yang dijadwalkan hari ini.

Sesampainya di tempat pencucian, Ilana dan Muna langsung merendam pakaian-pakaian itu dengan detergen. Menunggu sekitar lima menit, keduanya mengucek satu per satu pakaian yang sudah di rendam.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang