57: Tersingkapnya Rahasia

3.7K 301 135
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~

Terima kasih yang sudah setia menunggu cerita ini update ♡

Disclaimer:
Mohon maaf apabila ada ketidaksesuaian rentang waktu di cerita ini, karena ada perubahan alur yang menyebabkan waktunya juga berubah. Akan direvisi setelah cerita ini tamat.

Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca!

Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah.

“Manusia selalu memiliki potensi untuk memberi kecewa. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia manusia.”

— Kalam Guzelim —

_________ Serambi Masjid __________

-
-
-

Perpisahan. Satu kata itu tidak pernah terbayangkan Ilana akan terucap dari mulutnya sendiri. Entah apa yang menjadi pemicu, Ilana tidak tahu. Bohong apabila ia baik-baik saja usai berkata demikian. Justru bak senjata makan tuan, kata itu turut membombardir perasaannya.

Di sisi lain, Fillah tidak mengungkit apa yang telah ia dengar sekalipun mengejutkan dan amat menyakitkan. Ia berusaha memahami bahwa ucapan Ilana lahir dari emosi dan kekecewaan yang belum reda.  Wajar saja, terlebih ia tahu bahwa pengalaman di rutan membuat jiwa sang istri kembali terguncang.

Saat itu, Fillah yang mengalah lantas keluar dari kamar untuk—lagi-lagi—memberikan Ilana waktu sendiri, sekaligus menenangkan diri. Setelah keadaan telah membaik, ia kembali ke kamar, merebah dan menunaikan kantuk di samping sang istri yang tidur membelakanginya.

Tidak ada perkembangan signifikan pasca kejadian malam itu. Hubungan mereka masih terasa dingin layaknya ditempatkan di daerah kutub. Namun, setidaknya interaksi mereka terjalin cukup sering dari sebelumnya: Ilana tetap menjalankan peran sebagai istri, begitu juga Fillah sebagai suami. Bahkan, mereka masih murajaah maupun hafalan bersama.

Satu malam, tiba-tiba nyeri menyerang perut Ilana hingga ia gelisah di tengah tidur. Bermacam doa dan zikir telah ia rapalkan sembari mengelus perut, tapi sakit itu tak kunjung berkurang. Deru napas yang tak tenang serta gerak yang membuat ranjang sedikit terguncang, membuat orang di sisinya mendadak berbalik. Dekapan itu ia rasakan sekian detik kemudian, dengan tangan Fillah yang menyentuh tepat pada perutnya.

Seperti malam-malam sebelumnya—yang jauh dari hari itu—acap kali Ilana gelisah, Fillah menggumamkan salawat dengan suara pelan. Suara lembut itu membelai telinga Ilana, menyalurkan rasa damai yang selalu ia rindu. Keajaiban Allah, nyeri di perut perempuan itu seketika mereda berikut ketenangan menyergap hingga gelisah itu hilang, napasnya pun kembali normal. Dalam keadaan sadar, Ilana menangis diam-diam, sadar bahwa ikatan Fillah dengan anak yang tengah ia kandung ternyata begitu kuat.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang