[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca! Untuk bab sebelumnya juga tolong vote-nya diseimbangkan, ya 😉
Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
“Ada saatnya hidup memaksa kita berlari di antara kemarahan dan kesedihan. Kadang kita jatuh, kadang kita terluka. Namun pada akhirnya, yang benar-benar berarti adalah untuk siapa kita tetap berdiri.”
_________ Serambi Masjid __________
-
- -
Terlepas. Ilana akhirnya berhasil memutus ikatan tali di tangannya setelah bersusah payah dengan bantuan pecahan keramik. Disusul dengan ikatan di kaki yang dengan mudah ia lepaskan simpulnya.
Perempuan itu lekas mencari cara keluar dari tempat pengap dan remang tersebut. Siapa sangka jika ia akan mendengar percakapan Wira dan anteknya dari balik tumpukan kursi yang tertutup kain putih. Ia menangkap suatu tempat yang Wira bicarakan, entah di mana dan untuk apa. Hal itu mendorong Ilana untuk segera memutar otak agar dapat membuat 'tanda' apabila Fillah nanti akan datang kemari.
Sampai akhirnya, berselang satu menit, Ilana mendapat sebuah bolpoin yang entah berasal dari mana, dan lekas menulis nama tempat yang disebutkan Wira di kain putih dan beberapa benda lain yang bisa terlihat.
Namun, perempuan itu tidak menyangka jika kebebasannya akan langsung didapati oleh Wira dan dua orang lainnya. Wira memerintahkan dengan tegas agar dua orang 'suruhannya' kembali menangkap Ilana.
Kali ini perempuan itu terus meronta-ronta. Jika sekiranya ia dapat keluar dari ruangan tersebut dan lepas dari cengkeraman mereka, ia akan berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, usaha tersebut sia-sia belaka sebab Wira kemudian kembali membungkam mulut Ilana serta menutup mata indah itu dengan selembar kain.
Nggak, nggak! Mereka mau membawaku ke mana?
Ilana terus bertanya-tanya saat merasakan mobil yang ditumpanginya secara paksa tiba-tiba melaju cepat. Sekalipun ketakutan kembali bertandang, tapi ia berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia juga yakin tempat yang mereka tuju adalah yang Wira sebutkan.
Allah, tolong kirim bala bantuan-Mu.
Butuh waktu kurang lebih setengah jam sampai akhirnya Ilana digiring keluar dari mobil. Suasana yang perempuan itu rasakan berbeda dari sebelumnya: ada aroma tanah basah, bau pepohonan maupun bunyi gesekan daun karena angin, serta keadaan sunyi yang hanya diisi suara jangkrik.