07 : Keputusan dan Takdir

24.5K 2.9K 63
                                        

"Terkadang kita didorong maju oleh perasaan, tetapi dipaksa tarik mundur oleh kenyataan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Terkadang kita didorong maju oleh perasaan, tetapi dipaksa tarik mundur oleh kenyataan.
Tugas kita manusia adalah menggunakan kekuatan, didampingi oleh semesta yang memiliki kenyataan."

-Ustadz Agam Fachrul-

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-


Hening. Ruangan yang sejuk karena udara malam itu seolah-olah terasa panas. Orang-orang di sana tengah bersitegang bak sedang duduk di bangku persidangan. Tak ada yang berbicara satu pun di antara mereka.

Ilana pun tak pernah menyangka sebelumnya, jika dirinya akan berada di posisi seperti ini. Tubuhnya panas dingin. Tangannya yang bergetar, terkepal kuat. Wajahnya menunduk, tidak memiliki keberanian untuk menatap orang-orang di sana.

Setelah kajian usai beberapa saat yang lalu, dirinya dibawa ke Ndalem untuk diinterogasi bersama laki-laki yang tadi menolongnya. Ilana bahkan tidak tahu sejak kapan laki-laki itu melihatnya di danau, atau kenapa ia tiba-tiba jatuh ditimpa oleh laki-laki itu. Tapi yang pasti, akibat kejadian tak disengaja itu membawa dampak buruk bagi keduanya.

"Bunda benar-benar nggak menyangka." Ustadzah Marwah membuka suara, memecahkan keheningan di ruangan itu. "Hampir tiga puluh menit kamu telat datang ke acara tasyakuran atas kelulusan kamu. Kami khawatir tidak menemukan kamu di mana-mana, Fillah. Tapi, ternyata--" Ustazah Marwah tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dadanya sesak, napasnya tercekat.

Fillah gusar. Jujur, ia lebih memilih dimarahi habis-habisan oleh Ustadzah Marwah ketimbang melihat wajah bundanya yang memerah menahan amarah sekaligus kecewa, dan itu karena dirinya.

"Fillah bisa menjelaskan, ini nggak seperti yang Bunda, Abang, Mbak, dan mungkin orang lain pikirkan," ucap laki-laki itu sembari menatap orang-orang di sana satu per satu. "Fillah nggak ada niat apa-apa. Fillah cuma mau menyelamatkan dia yang berniat bunuh diri." Laki-laki itu melirik perempuan di depannya sekilas, kemudian menatap bundanya lagi.

"Benar itu, Ilana? Kamu berniat bunuh diri?"

Perempuan yang tengah menunduk dalam-dalam, mengangkat wajahnya dan menatap Ustadzah Marwah dengan hati-hati. "M-maaf, Ustadzah, saya tidak ada niatan untuk bunuh diri," jawab Ilana. Ia tidak bisa membenarkan jika dirinya berniat bunuh diri, sebab meskipun hampir melakukannya, tapi hati kecilnya masih menginginkan ia untuk hidup. "Tapi, ucapan Gus Fillah memang benar, tidak ada apa-apa di antara kami. Kejadiannya tidak seperti yang kalian pikirkan."

"Tapi, bagaimana kamu bisa bersama Fillah di saat semua orang ada di lapangan?" Kini Fahmi yang bertanya.

Dengan penuh keberanian, Ilana mulai menjelaskan kejadian sebenarnya, secara runtut dan terperinci. Namun, ia sedikit berbohong mengenai apa yang ia lakukan di danau. Tentu saja Ilana tidak mau masalah pribadinya diceritakan kepada siapa pun.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang