29 : Berani Melangkah

18.3K 1.9K 503
                                        

“Untuk dapat bertumbuh, kita memerlukan permulaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Untuk dapat bertumbuh, kita memerlukan permulaan. Jangan terbelenggu oleh rasa sakit dan mulailah untuk mencoba menerima.”

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-

Ilana memandangi bayangan dirinya sendiri di cermin. Alih-alih memerhatikan penampilannya yang sudah terbalut abaya berwarna maroon dan french khimar hitam, Ilana lebih memilih membawa pemikirannya untuk berkelana.

"Untuk lepas dari ketakutan itu, kamu harus menghadapinya. Untuk lari dari kegelapan, kamu harus masuk ke dalam kegelapan dan menghadapinya."

Sekelebat ucapan Fillah malam itu kembali terngiang di kepalanya dan membuat Ilana semakin yakin akan keputusannya untuk kembali berkuliah setelah dua hari cuti. Apa pun yang akan terjadi, Ilana sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Lagi pula, ia tidak akan maju jika terus-menerus berada di titik lemahnya dan tidak mau mencoba untuk bangkit.

"Kamu yakin mau ke kampus?"

Suara berat seseorang menginterupsinya. Dari pantulan cermin, Ilana dapat melihat Fillah yang tengah memperhatikan dari belakang. Penampilannya sudah rapi, tetapi bukan untuk bekerja, melainkan hanya mengantarkannya ke kampus.

Ilana sampai heran sendiri, kenapa Fillah bisa dengan seenaknya sering mengambil cuti dari pekerjaan. Hal itu demi merawatnya agar segera pulih dan lebih baik dari sebelumnya. Padahal, Ilana merasa baik-baik saja dan ya... sejenak melupakan masalah tempo hari yang membuatnya cukup terguncang.

Namun, tidak seharusnya Fillah terlalu mengkhawatirkannya sedemikian rupa. Bahkan, sampai bertanya dengan pertanyaan yang sama berkali-kali sejak beberapa jam yang lalu. Itu sangat berlebihan.

"Iya, Gus. Ila sudah cukup yakin untuk berangkat ke kampus."

Ilana mengangguk lalu mengukir senyum sebelum sebagian wajahnya tertutup oleh cadar dari french khimar-nya. Ilana memantapkan hati dan yakin dengan keputusannya, meski di sisi lain masih tersisa sedikit keraguan.

"Serius?"

"Iya, Gus."

Helaan napas terdengar, dan membuat Ilana segera berbalik untuk menatap suaminya. Masih ada secercah kekhawatiran yang dipancarkan oleh Fillah. Ilana tahu, dan itu membuatnya merasa sedikit bersalah.

"Sebenarnya Ila itu heran, kenapa Gus bisa seenaknya mengambil cuti demi mengurus Ila," ujar perempuan itu tiba-tiba.

"Kiya, kita sudah sering membahas ini. Mengurus kamu itu pekerjaan paling penting di hidup saya. Kamu prioritas saya, Kiya," pungkas Fillah dengan nada melemah.

"Ila tahu, Gus, dan Ila sangat berterima kasih untuk itu. Tapi, Ila itu takut kalau sampai Gus kena teguran dari atasan Gus." Ilana mengungkap isi hati yang membelenggunya dengan rasa bersalah.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang