06 : Berujung Petaka

22.7K 2.6K 62
                                        

"Bahkan, takdir Allah pun mempertemukan kita yang tak saling mengenal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Bahkan, takdir Allah pun mempertemukan kita yang tak saling mengenal."

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-

Ilana meringkuk di tepi danau sembari memeluk kedua lututnya, seketika tubuhnya lemas dan seperti kehilangan energi. Setiap dirinya mendoktrin pada otaknya bahwa ia baik-baik saja dan tetap kuat, saat itu juga ia ingin menyerah. Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri, setiap hari, bahwa ia akan baik-baik saja. Tetapi, kenyataan seolah menolak apa yang selalu ia usahakan. Nyatanya, ia tidak baik-baik saja, ia hanya berpura-pura untuk terlihat baik.

Tak ada seorang pun yang tahu jika ia masih sering menangis di malam hari. Pikiran negatif selalu menghantuinya setiap malam, merenggut ketenangan yang ia harapkan. Rasa trauma yang perempuan itu alami belum benar-benar hilang.

Ada yang bilang, cara mengatasi masalah-masalahnya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, ketenangan yang hakiki adalah dengan mengingat-Nya. Semua itu sudah Ilana lakukan, bahkan di setiap shalat ia selalu meminta untuk diberi ketenangan dan kebahagiaan, hingga ia pun akhirnya mendapatkannya. Lingkungan pesantren juga telah membuatnya menjadi lebih baik dan mendapat sedikit ketenangan.

Namun kendati demikian, lingkungan yang baik itu pun tidak menjaminnya untuk tidak terluka. Ilana menyangka ia baik-baik saja dan sudah sembuh semenjak ada di pesantren. Namun, nyatanya ia masih sakit.

Akhir-akhir ini tekanan itu kembali datang. Lebih tepatnya, saat kakaknya menelponnya tadi siang. Setiap seminggu sekali Cakra memang menelpon ke pesantren untuk menanyakan kabarnya.

Ada sesuatu yang berbeda saat Ilana mendengar nada bicara Cakra. Kakak laki-lakinya itu seperti tidak bersemangat dan sedikit sendu, berbeda dengan sebelumnya.

Saat ditanya, Cakra awalnya tidak menjawab dan mengatakan baik-baik saja. Namun, bukan Ilana namanya jika tidak bertanya terus-menerus dengan rasa penasaran yang tinggi. Alhasil, Cakra menceritakan masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.

Ilana dibuat tercengang dan tidak percaya saat kakaknya mengatakan bahwa semua aset yang diberikan oleh Bapak disita oleh laki-laki paruh baya itu. Termasuk motor milik Cakra yang padahal hasil jerih payah laki-laki itu. Lebih parahnya, Bapak juga mengusir Cakra dari rumahnya.

Cakra memberitahukan bahwa Bapak sudah memutuskan ikatan keluarga di antara mereka, lantaran terlalu kesal karena Ilana pergi dari rumah dan tidak pernah menurut lagi. Bahkan, Bapak tidak sudi namanya tersemat di nama belakang Cakra dan Ilana. Bapak juga tidak mau menjadi wali nikah Ilana kelak.

Ilana menyarankan pada Cakra agar ia berhenti mondok dan lebih baik pulang saja, agar tidak menambah beban, terutama dalam kondisi yang seperti ini. Namun, kakak laki-lakinya itu menolak keras, dan mengatakan bahwa Ilana tidak boleh putus kuliah dan harus tetap berada di pesantren.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang