43 : Romantisme Mahalul Qiyam

8.3K 722 145
                                        

Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~~

Syarat sebelum melanjutkan membaca bab ini:

Lakukan butterfly hug, lalu ucapkan, "Alhamdulillah, terima kasih Allah, telah melapangkan hatiku, menguatkan jiwaku, dan membuatku mampu bertahan di titik sekarang."

Selamat membaca!
Jangan lupa awali dengan basmallah...

Jangan lupa untuk vote dan komen juga!

Tandai kalau ada typo!

"Sejauh apa pun kita berpaling, Allah akan selalu menanti kita untuk kembali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sejauh apa pun kita berpaling, Allah akan selalu menanti kita untuk kembali."

_________Serambi Masjid__________

-
-
-

Ilana tengah mematut dirinya di depan cermin. Kini ia sudah rapi dengan balutan busana muslim berupa tunik berwarna putih, sarung bermotif batik, dan kerudung segiempat syar'i, busana yang serupa dengan semua santriwati di pesantren Al-Hidayah. Hari ini, mereka diminta untuk memakai seragam pesantren tersebut lantaran siangnya akan diadakan pengajian memperingati Isra Mi'raj. Pengajian tersebut juga dibarengi dengan acara tahnik, akikah, sekaligus potong rambut anak dari salah satu ustadz yang baru saja lahir tujuh hari yang lalu. Beliau meminta izin agar acara penyambutan anaknya itu berbarengan dengan pengajian Isra Mi'raj dengan harapan mendapat lebih banyak berkah.

"Kalau senyum begini, 'kan, lebih baik," ujar Ilana yang memandang pantulan wajahnya di cermin. Seulas senyum terpampang nyata di sana. Rasanya lebih tenang ketika melihatnya. Maka Ilana terus mengulang-ulang senyumnya . "Padahal senyum itu gampang, hanya menarik kedua sudut bibir ke atas. Tapi, kenapa dulu rasanya susah banget, ya?" tanyanya kepada diri sendiri.

"Karena dulu kamu terlalu perhatian pada hal-hal yang membuatmu terluka, sampai lupa gimana caranya tertawa." Seseorang datang dan menanggapi pertanyaan Ilana, yang tak lain dan tak bukan adalah Fillah. Laki-laki itu datang dari luar, kemudian menghampiri sang istri. "Sekarang kamu lebih menikmati kebaikan di baliknya, menghiraukan hal-hal kecil yang membuat kamu bahagia, makanya bisa senyum lebar."

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang