[Romance]
Dunia Ilana itu hanya dipenuhi luka, derita, dan air mata. Terlebih, setelah mamanya tiada, rasa sakit yang Ilana rasakan kian luar biasa. Hingga Ilana lupa bagaimana cara untuk tertawa.
Kepahitan hidup yang semakin menjadi-jadi, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat datang kembali di bab terbaru Serambi Masjid ~
Tolong biasakan vote dulu sebelum membaca! Untuk bab 57 juga tolong vote-nya diseimbangkan dengan bab lain 😉
Yuk ramaikan komentar atau reaksi di setiap paragraf!
Selamat membaca! Jangan lupa awali dengan basmallah.
"Allah memang telah menetapkan takdir, tetapi kita juga diberi kebebasan untuk memilih. Masa depan ditentukan oleh pilihan kita, sementara doa dan usaha adalah cara menjalaninya."
~
“Doa seorang ibu selalu mendekap seluruh perjalanan hidup anaknya.”
_________ Serambi Masjid __________
- - -
Qabiltunikahahawataswijahalinafsi bil mahrilmadzkur, saya terima nikah dan kawinnya dia untuk diri saya dengan mahar tersebut. Fillah masih mengingat jelas saat kalimat itu meluncur dari bibirnya. Mengambil alih tanggung jawab yang bukan lagi milik kedua orang tua Ilana, menerima semua yang ada pada Ilana untuk dirinya. Janji yang ia ucapkan bukan hanya disaksikan oleh orang-orang, tapi juga disaksikan oleh Allah dan penduduk langit.
Tak pernah sekalipun Fillah menganggap pernikahan itu sebagai permainan maupun uji coba, sekalipun mereka menikah tanpa cinta dan hanya karena kesalahpahaman. Ia yakin betul apa yang telah ditetapkan adalah yang terbaik dan memiliki alasan, walaupun akan ada air mata di dalamnya. Ia bertekad penuh untuk mempertahankan mahligai rumah tangga dengan Ilana hingga ke surga, tanpa ada orang ketiga, tanpa ada kata pisah.
Namun, sungguh, permintaan cerai yang Ilana lontarkan terasa seperti pisau yang menancap tepat di dadanya. Sakit. Begitu sakit hingga Fillah kehilangan kata-kata.
Andai waktu bisa diputar, ia akan jujur sejak awal tentang Nirmala sebelum perempuan itu tahu dari orang lain. Fillah pernah berniat demikian-hingga surat pengalihan donor sengaja ia simpan, tapi keberanian itu tak pernah benar-benar ia miliki. Bukan karena ia ingin berbohong, melainkan karena ia takut. Takut kehilangan Ilana. Takut melihat kekecewaan di mata perempuan yang kini, ironisnya, benar-benar terluka olehnya.
Alam bawah sadar Fillah merekam dan terus meneriakkan satu hal: kematian Nirmala adalah kesalahannya. Jika saja ia tidak menerima donor yang seharusnya untuk ibu mertuanya itu, mungkin keadaan akan berbeda. Rasa bersalah yang telah berpuluh tahun lalu itu terus menghantui, bertumpuk dengan penyesalan lain yang belum selesai atas kematian Luthfi.
Dan kini, ketakutan yang berlebihan itu menjadi senjata yang pada akhirnya melukai diri sendiri.