31 : Jum'at Bersamamu

19.8K 2K 494
                                        

•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


•°•°•°•°•Serambi Masjid•°•°•°•°•

-
-
-

Ilana berjalan gontai sepulang dari kampus menuju rumahnya. Meski waktu belum menunjukkan tepat pukul dua belas siang, tetapi sinar matahari terasa begitu terik dan panas. Ilana merasa dehidrasi dan lelah melebihi hari-hari biasanya.

Dengan sedikit malas, Ilana membuka pagar rumah. Sembari mengucap salam dengan lirih, Ilana membuka pintu bercat putih tersebut dan masuk ke dalam sana. Ia ingin cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya dan mengambil minum guna membasahi tenggorokannya yang kering.

Sesampainya di dapur, Ilana mengambil air mineral dalam kulkas dan menuangkannya ke gelas. Rasa dahaganya pun seketika hilang begitu air bening tersebut melewati tenggorokannya.

"Alhamdulillah..."

Ilana mengelap sisa-sisa air di sudut bibirnya. Botol besar yang semula ada dalam genggaman, kini sudah ia kembalikan ke tempat asalnya. Setelah menutup pintu lemari es, Ilana membalikkan tubuh bersamaan dengan seseorang yang mendadak muncul tepat di hadapannya dan membuatnya terkejut bukan main.

"Aaaa... Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah!" Ilana berteriak nyaring di hadapan orang tersebut dengan mata membola. Beruntung ia sudah selesai minum. Jika tidak, maka dipastikan bahwa air yang ia minum akan menyembur tepat ke wajah orang di hadapannya itu.

"Hei, kenapa teriak? Memangnya saya hantu?"

"Gus ngangetin."

Mengerti ekspresi Ilana yang tampak cemberut dengan bibir mengerucut, laki-laki yang tak lain adalah suaminya itu lantas mengudarakan suara tawa kecilnya. "Kenapa kaget? Padahal saya dari tadi di belakang kamu, lho."

"Ya mana Ila tahu kalau Gus sudah ada di belakang Ila dari tadi. Wong Ila lagi asyik minum," sahut perempuan itu.

"Haus banget, ya, sampai setengah botol besar kamu habiskan? Sampai-sampai minumnya sambil berdiri?"

Ilana hanya menggerakkan kepalanya naik turun, mengangguk mengiyakan.

"Lain kali minumnya sambil duduk."

Lagi-lagi Ilana mengangguk atas teguran dari sang suami. "Na'am, Gus."

Ilana lantas berbalik dan hendak melenggang ke kamarnya untuk menyimpan tas dan perlengkapan kuliah lainnya. Namun, baru satu langkah, ia berbalik lagi ke arah laki-laki yang masih berdiri di sana yang kini hendak mengangkat sebuah ember berisi pakaian basah.

Tak tunggu lama, Ilana meraih tangan kanan Fillah, menyalami dan mengecupnya berulang kali. "Assalamu'alaikum, Gus."

"Wa'alaikumussalam, istri saya," jawab Fillah sembari menyunggingkan senyum yang mampu membuat jantung Ilana berdebar lebih kencang.

Serambi MasjidCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang