Bagian empatpuluh sembilan

34.3K 1.6K 39
                                        

Belom sampe 150, tapi gapapa dehh aku update aja
Part ini ramein dengan komentar kalian yaaa😉

"Tidak ada sebutan untuk orangtua ketika anaknya meninggal. Karena tidak ada kata yang mampu menggambarkan penderitaan itu"
-Hi Bye Mama

Happy reading 🤍

__________

Aby berdiri termenung di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang sedikit mendung. Seperti suasana hatinya. Pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal tentang Zara. Zara-nya yang tidak seperti dulu. Zara-nya yang membangun tembok besar antara mereka dan tidak membiarkannya mendekat sedikitpun.

Pintu terbuka terdengar dari tempat Aby berdiri. Raffa masuk kemudian mengambil jaketnya yang tertinggal. Raffa mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana saat melihat Aby sendirian di balkon. Ia memilih menghampiri Aby disana.

"Eh, gue kira nyabu lo," celetuk Raffa begitu sampai di samping Aby. Ia menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas balkon tersebut. Tangannya ia sembunyikan di bawah ketiaknya untuk meredakan rasa dingin yang menjalar lewat telapak tangannya.

Aby mendengus. "Itu lo kali."

Raffa memperhatikan wajah Aby yang tidak bersemangat. "Masih kusut aja tuh muka. Baru kemaren kayanya cerah banget ngalahin sang mentari yang berpijar di siang hari menyinari—"

"Apaan sih, bangsat," umpat Aby mendengar celotehan absurd Raffa.

Raffa menggeleng sok prihatin. "Kurang-kurangin ngomong kotor, udah punya istri juga. Zara gak suka ntar."

Aby tertawa hambar. "Sekarang aja dia gak suka sama gue."

"Yaa, setidaknya jangan buat dia makin gak suka sama lo."

Aby menunduk dalam. Mengingat kembali Zara yang sama sekali tidak ingin melihatnya berada di sekitarnya. Menjaga jarak dengannya. Tatapan acuh padanya. Mengabaikannya. Bahkan satu kata yang keluar dari Aby, Zara tidak ingin mendengarkan apalagi menjawabnya.

"Udah hampir tiga minggu, Raf. Zara masih sama semenjak dia sadar. Gue ngerasa Zara makin jauh dari gue, dan itu yang gue takutin selama ini."

"Lo nyerah?"

Aby menggeleng. "Rasanya gak pantes gue nyerah sekarang."

"Aelah, baru tiga minggu, By. Zara berbulan-bulan ngadepin lo," sahut Raffa santai.

Aby diam cukup lama. "Gue... se-brengsek itu, ya?"

Raffa mengendikkan bahunya. "Cuma Zara yang bisa nilai itu karena cuma dia yang ngerasain sakitnya."

"Tapi kalo lo nanya gue, jawaban gue 'Iya'."

Raffa menghembuskan napas panjang. Menerawang masa lalu tentang kelakuan Aby yang menurutnya sulit dimaafkan. Dalam hati kecil Raffa pun, Raffa masih menyimpan rasa tidak terima Zara diperlakukan seperti itu oleh Aby.

"Lo masih berhubungan sama Shasa, sedangkan lo udah punya hubungan yang jauh lebih serius dengan Zara. Sampai akhirnya dia udah mau nyerah, tapi lo ngelakuin yang gak seharusnya ke Zara. Lo nampar dia, paksa dia buat ngelakuin hubungan badan sama lo. Gue rasa itu yang paling menyakitkan bagi dia, By."

Raffa memperjelas apa yang dilakukan Aby selama ini. Membuat Aby makin merasakan perasaan yang tidak menyenangkan itu lagi.

Raffa menjeda ucapannya sejenak. "Dan akhirnya benih lo jadi. Satu-satunya harapan dia, kekuatan dia tapi akhirnya ikut hilang juga seperti bahagianya dia yang pernah hilang."

Tahta Hati [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang