Bagian limapuluh empat

42.7K 1.4K 11
                                        


Happy reading 🤍


__________


"Lo serius, Raf?" Aby bertanya ke sekian kalinya dengan wajah yang tidak percaya.


Raffa beralih ke Zara. "Aby belum bersihin telinga, ya, Ra?"

Zara hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Raffa.

"Gue udah ngomong lima kali, anjir. Masih gak denger lo?" lanjut Raffa dengan kesal.

"Eits, jangan ngomong kotor depan bini gue," balas Aby memperingati.

Raffa memutar bola matanya. Tangannya meraih nabati yang tersedia di meja. "Kenapa? Takut gak bisa bales ngomong kotor juga kalo di depan Zara?"

Zara langsung menoleh menatap Aby. "Kamu masih suka ngomong kotor?"

Aby menggeleng cepat. "Gak, Ra."

"Masih, kalo sama gue." Raffa menyahut masih dengan kunyahan nabati di mulutnya.

"Jangan dibiasakan, Mas Aby."

Raffa tertawa tertahan. Aby melirik Raffa sengit mendengarnya.
"Raffa juga suka ngomong kotor."

"Suami aku, kan, kamu."

Aby menghela napas pasrah. "Iya. Gak lagi, Sayang."

Zara tersenyum manis. "Gitu dong."

Raffa menatap jengah kedua insan yang saling bertatapan di hadapannya itu. Dirinya seperti tidak terlihat disini.
"Halo, gue disini mau pamit sama ambil paspor. Bukan mau liat kalian pamer keuwuan depan gue," sindir Raffa untuk menyadarkan kedua orang itu.

Aby berdecak kasar. "Lo jauh-jauh mau ke USA jangan lupa cari cewek, ya. Kasian gue liat lo gak ada yang ngurusin."

Raffa menatap Aby remeh. "Oh jelass. Mau jadi player gue disana."

Aby tertawa sarkas. "Sok-sokan mau jadi player. Nyaman sama yang beda iman, kicep lo."

"Lo nyindir diri sendiri?"

Aby merangkul pundak Zara mesra dan tersenyum mengejek. "Orang gue sama yang seiman kok."

"Yeu, baru sekarang aja lo mau sama Zara."

"Terserah gue dong."

"Ya terserah gue juga."

"Lo—"

"Mas Aby, udah." Zara melerai adu mulut antar persepupuan ini. Zara mengusap lengan Aby menyuruhnya untuk sedikit bersabar. Ia sebenarnya heran kenapa mereka jarang sekali bisa akur sebentar saja jika bertemu. Padahal kalau ingin mengucapkan salam perpisahan tidak perlu seperti ini bukan?

Masih dengan muka kesal Aby menjawab. "Raffa duluan, Ra."

Raffa mendelik tidak terima. "Orang lo duluan yang ngajak ribut," sewot Raffa.

Tahta Hati [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang