Happy reading 🤍
__________
Aby masih diam di mobilnya. Saat ini mobilnya masih terparkir di gang arah masuk ke rumahnya. Kepalanya ia sandarkan ke kursi dan menengadah melihat langit-langit mobil. Sudah hampir dua jam ia berdiam diri seperti ini. Melupakan janjinya pada Zara yang akan pulang cepat. Aby rasanya tidak ingin pulang. Ia tidak ingin melihat Zara. Tidak ingin dihantui rasa bersalah. Biarkan ia membayangkan wajah Zara yang banyak tersenyum akhir-akhir ini. Mungkin untuk terakhir.
Aby tersenyum miring. Aby bahkan tidak mau menyebut ini terakhir. Namun, keputusannya hanya sampai malam ini. Aby tidak bisa menunda lagi. Aby melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Lalu menghidupkan kembali mesin mobil. Ia harus menyelesaikan ini.
Beberapa lampu sudah padam begitu Aby sampai. Sepertinya Zara sudah tidur. Aby berjalan menuju lantai dua dan mengetuk pintu kamar Zara perlahan. Tidak ada sahutan. Bolehkah Aby merasa lega? Belum selesai kelegaannya, pintu kamar Zara terdengar terbuka.
"Mas Aby."
Aby menoleh untuk melihat Zara. Mata Zara masih segar, pertanda ia belum tidur. Aby berjalan mendekati Zara.
"Aku kira kamu pulang cepet," ucap Zara.
Aby tersenyum tipis. "Maaf. Urusannya lebih lama tadi."
Zara menganggukkan kepalanya. "Langsung istirahat, kamu pasti capek."
Aby menunduk sebentar. "Zara, bisa kita bicara sebentar?"
Zara terdiam. Perasaannya tidak enak sekarang. Apalagi nada bicara Aby terdengar berbeda. "Mau dimana?"
"Di ruang tengah aja."
Keduanya sudah duduk saling berhadapan sekarang. Lima menit terlewati begitu saja dengan keheningan. Aby belum membuka suaranya. Aby menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku mau cerita yang kamu tanya semalem. Tapi sebelum itu, aku mau nyampaiin sesuatu." Aby menatap Zara lama sebelum kembali melanjutkan perkataannya. Sedangkan Zara hanya diam. Ekspresinya tidak dapat ditebak Aby kali ini.
"Kita udahan mainin perkenalan konyol ini, ya? Kalo dipikir-pikir itu sama sekali bukan diri aku. Aku gak suka," ucap Aby.
Zara tahu kemana arah perbincangan Aby. "Kamu yang mulai kalo kamu lupa," jawab Zara tenang.
"Ya, aku tau. Aku mau kita berhenti. Dan tentang pernikahan yang diinginkan kamu itu.. aku bahkan gak pernah mikirin pernikahan ini bakal gimana nantinya. Di pikiran aku pernikahan ini cuma akan berakhir."
Zara meneguk ludahnya kasar. Zara paham sekarang, Aby tidak pernah menganggap pernikahan ini serius. Apa karena wanita itu?
"Kenapa kamu bisa beranggapan kalo pernikahan ini bakal berakhir?" Zara bertanya tanpa melihat wajah Aby.
"Balik lagi sama yang awal. Ini tentang cinta pertama aku, namanya Shasa. Sembilan tahun aku—"
"Jadi namanya Shasa?" Zara memotong perkataan Aby. Baru kali ini Zara memotong perkataan Aby saat sedang serius begini. Terdengar lancang, tapi Zara tidak ingin menahannya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tahta Hati [End]
Romance*Follow my profile* Zara Aleena Sabiya (24 tahun), seorang sekretaris di salah satu perusahaan AB corp, dijodohkan dengan Abyan Nandana (27 tahun) pemilik AB corp, yang masih memiliki hubungan dengan kekasihnya-Shaquita Ayyara selama sembilan tahun...
![Tahta Hati [End]](https://img.wattpad.com/cover/259000262-64-k58478.jpg)