Bagian limapuluh satu

39.7K 1.7K 63
                                        

Sesuai permintaan, gak lama kan?

Happy reading 🤍

__________

"Oh iya, aku hampir lupa. Aku bawa buku bacaan buat kamu."

Raffa memberikan dua buku kepada Zara. Tetapi Zara tidak mendengar ucapan Raffa barusan. Zara terlihat termenung memikirkan sesuatu. Raffa tersenyum dalam hati. Ia mengerti apa yang dipikirkan Zara saat ini.

"Ra," panggil Raffa pelan.

Zara tersentak mendengar namanya dipanggil. Zara melirik buku yang masih ada di genggaman Raffa.

"Aku taruh sini aja, ya." Raffa meletakkan kedua buku tadi di atas nakas. Zara hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Kamu butuh sesuatu?"

Zara menggeleng ragu. "Gak ada."

Raffa tersenyum tipis seraya menaruh kursi roda ke tempat semula. "Mau aku panggilin Aby? Kamu keliatan khawatir daritadi."

Tepat sasaran. Zara menjadi kikuk karena penawaran Raffa barusan. Namun bukannya Zara mengiyakan, Zara justru mengalihkan pembicaraan.

"Mas Raffa udah mau pulang?"

Raffa mengangguk. "Iya, ini aku mau pulang."

Zara memperhatikan Raffa yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Jemari Zara saling bertautan, bingung akan membicarakannya pada Raffa atau tidak.

"Aku pulang dulu, Ra." Raffa berpamitan sekali lagi.

Zara mengangguk cepat. Raffa tersenyum tipis sebelum berbalik akan keluar dari ruangan. Sebelum Raffa jauh dari jangkauan Zara, Zara kembali memanggil Raffa.

"Mas Raffa."

Raffa terkekeh kecil mendengar Zara memanggilnya. Ia tahu apa yang akan terjadi sekarang.
"Ya?"

Zara menggigit bibir bawahnya. "Boleh tolong panggilin Mas Aby kalo udah sampe luar?" pinta Zara dengan suara yang kecil. Wajahnya yang semula pucat, kini memerah menahan malu.

Tidak ingin membuat Zara bertambah malu, Raffa memilih mengangguk mengiyakan permintaan Zara. Sampai akhirnya Raffa kembali berjalan keluar. Sedangkan Zara mengambil pouch kecil milik Nurul yang berisi obat-obatan. Setelah siap, Zara menunggu di ranjangnya dengan jantung yang sudah tidak karuan sejak tadi.

Aby muncul tidak lama setelah Raffa pergi. Zara berusaha terlihat biasa saja di hadapan Aby walau detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi.

"Kamu manggil aku?" tanya Aby memastikan. Takutnya ia hanya dikerjai oleh Raffa.

Zara mengangguk. "Duduk sini." Zara menunjuk bagian ranjang yang kosong di depannya.

Aby melangkah ragu mendekati Zara kemudian duduk di tempat yang ditunjuk Zara tadi dengan hati-hati. Zara mengambil kapas beserta antiseptik dari pouch dan menuangkannya sedikit ke atas kapas. Tangan Zara menyentuh rahang Aby dan matanya mengamati bagian wajah Aby yang terluka tanpa melihat manik Aby.

Tahta Hati [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang