Bagian empatpuluh delapan

34K 1.5K 48
                                        

Gak lama kan?
Aku targetin aja ya biar enakeun wkwk

150 vote buat part selanjutnya

Happy reading 🤍

___________


Aby menggenggam tangan Zara erat. Matanya tetap tertuju pada wajah yang kini tertidur pulas. Tidak beralih barang sedikitpun. Tepat di belakangnya terdapat dokter yang selama ini merawat Zara untuk berjaga-jaga jika suatu hal terjadi.

Saat ini Aby menunggu kesadaran Zara pulih untuk kedua kalinya. Ya, Zara memang sadar kemarin. Namun saat itu ia belum diperbolehkan menemui siapapun terlebih dahulu.

Aby hampir tidak tidur semalaman hanya untuk menunggu Zara bangun. Ia tidak ingin melewatkan momen ketika Zara kembali membuka matanya.

Aby kembali merubah posisi duduknya. Ia sungguh gelisah sejak pertama kali sampai disini. Entahlah, ia gugup untuk menatap mata yang selama ini dirindukannya. Segala kemungkinan dengan apa yang terjadi setelah ini bersarang di benaknya. Dan ia harus siap menghadapi itu.

Lenguhan kecil terdengar dari Zara diikuti dengan kelopak mata Zara yang terbuka secara perlahan dengan pandangan mengarah langit-langit ruangan. Aby reflek mendekatkan diri pada Zara.

"Hei." Aby mencoba mengalihkan perhatian Zara.

Benar saja, Zara langsung menatap Aby setelahnya. Aby hampir menangis ketika mata itu dapat ia tatap lagi. Aby tersenyum tipis. "Makasih, Ra."

Dengan pandangan yang masih memburam, Zara mencoba mengedarkan tatapannya ke sekeliling. Zara kembali menatap Aby dengan raut bingung.

"Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" tanya Aby beruntun saat menyadari wajah Zara yang berubah.

Zara tidak menjawab. Aby menoleh kepada dokter dengan pandangan bertanya. Dokter tersebut mendekati ranjang tempat Zara terbaring.

"Halo, Nyonya Zara. Itu nama Anda, kan?" Dokter bertanya dengan ramah.

Zara mengangguk pelan.

Dokter menunjuk Aby. "Anda tahu ini siapa?"

Zara tidak langsung menjawab. Ia memberi jeda lama serta menatap wajah Aby lekat sebelum akhirnya menjawab. "Mas Aby."

Aby bernapas lega usai Zara menyebut namanya. Dokter mengangguk-angguk seraya berkata.

"Cedera di kepalanya tidak berdampak pada ingatannya. Walaupun demikian, Nyonya Zara masih harus di rawat intensif selama beberapa hari lamanya. Dan satu lagi, tolong hindari pembicaraan yang berat untuk saat ini."

Dokter tersebut izin undur diri setelah mengatakan beberapa hal penting. Aby memusatkan perhatiannya pada Zara lagi. Namun Zara terlihat melamun.

"Zara, kamu gak papa?" tanya Aby lagi. Ia sungguh khawatir saat menyadari Zara yang nampak kebingungan?

Zara tersadar dari lamunannya. Sedetik kemudian Zara tersenyum tipis. "Aku mikirin sebelum aku..."

Alis Zara mengerut hampir menyatu. Ingatan-ingatan sebelum ia terbaring disini melintas begitu saja dalam benaknya. Zara menatap Aby dalam.

Tahta Hati [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang