Extra chapter pertama!!!
Happy weekend and Happy reading 🤍
__________
"Iya, bereskan saja semuanya."
Zara menoleh ketika mendengar Aby berbicara di telepon. Aby menghampiri Zara yang sedang menonton serial netflix dengan toples camilan di pangkuannya. Aby memeluk pundak Zara dan masih berbicara dengan seseorang di telepon.
"Langsung bereskan saja, saya sudah singkirkan barang yang penting."
Setelah itu Aby memutuskan sambungan telepon. Ia menoleh pada Zara dan tersenyum sekilas kemudian fokus kembali pada ponselnya untuk mengirim pesan.
"Regan?" Zara bertanya memastikan orang yang menelepon Aby barusan.
"Semuanya lagi diurus sama dia," jawab Aby dengan anggukan kecil di kepalanya.
Zara mengehentikan kunyahan di mulutnya. Ia beralih menatap Aby intens. Zara tahu apa yang sedang mereka bicarakan tadi.
"Kamu yakin rumah yang dulu mau kamu hancurin?" Raut Zara berubah serius.
Aby mengangguk lagi. "Yakin, Ra. Lagian buat apa juga."
Zara menghembuskan napas panjang. "Yaa emang gak buat apa-apa... tapi apa gak sayang? Kamu nempatin rumah itu udah lama, loh, Mas." Zara masih meyakinkan Aby.
Kini Aby berhenti mengetik pesan. Ia terdiam sejenak. Aby memang berencana merobohkan rumah lamanya. Bukan untuk apa-apa, hanya karena Aby ingin. Baginya rumah besar itu hanyalah properti untuk tempat tinggal saja.
Aby meletakkan ponselnya ke meja kemudian menghadap Zara seutuhnya yang kini Zara juga tengah menatap Aby.
Aby tersenyum lembut. Tangannya terulur untuk membersihkan remahan yang menempel di bibir Zara. "Itu cuma rumah, sayang. Rumah itu gak ada arti tertentu buat aku walaupun aku udah lama nempatin itu. Hanya tempat sementara."
Aby menyingkirkan toples yang ada di pangkuan Zara lalu beralih kepalanya yang ia letakkan di pangkuan Zara. "Aku udah punya tempat pulang yang lebih nyaman. Mau rumahnya udah lama aku tempati, atau rumahnya bagus kalo gak ada kamu percuma rasanya. Kalo rumahnya ada kamu, nah itu baru ada artinya."
Zara mengangkat kedua alisnya. Mencoba untuk tidak terpengaruh dengan kalimat Aby yang terakhir. "Artinya apa emang?"
Mata Aby berkeliling seperti memikirkan sesuatu. "Souffle."
Kali ini Zara mengernyit bingung. "Makanan?"
Aby terkekeh pelan. "Itu bahasa Prancis, Sayang. Bukan souffle makanan. Artinya napas. Aku kepikiran kata ini waktu kamu nenangin aku di pesawat dulu. Rumah yang nyaman itu ibarat napas bagi aku. Karena satu-satunya penawar pertama rasa lelah, suntuk, marah, takut, panik itu bernapas dengan benar. Kalo di aku, itu berlaku kalau aku liat kamu. Adanya kamu bisa buat aku bisa bernapas dengan benar. Kamu rumah itu, kamu napas itu. Tu es mon souffle."
Zara masih menatap Aby lama. Pipinya terasa panas sampai menjalar ke telinganya. Ah, Aby memang pintar sekali mengolah kata untuk dijadikan bahan obrolan dengan Zara. Apalagi jika soal memujinya, Aby juara satu soal itu. Zara sampai heran Aby mencari dimana kata-kata sejenis tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tahta Hati [End]
عاطفية*Follow my profile* Zara Aleena Sabiya (24 tahun), seorang sekretaris di salah satu perusahaan AB corp, dijodohkan dengan Abyan Nandana (27 tahun) pemilik AB corp, yang masih memiliki hubungan dengan kekasihnya-Shaquita Ayyara selama sembilan tahun...
![Tahta Hati [End]](https://img.wattpad.com/cover/259000262-64-k58478.jpg)