"Mak! Riki berangkat sekolah dulu." Pamit Riki sambil turun dari lantai 2, dia berjalan mendekat ke arah Emaknya yang berada di dapur.
"Iya, belajar yang rajin." Ucap Emak mengalihkan pandangannya dari masaknya ke arah Anaknya.
"Iye, Mak." Jawab Riki sambil mencium pipi Emaknya. Riki berjalan menuju ke arah pintu depan rumah, dia membuka pintunya dan nutupnya lagi.
"Bangsat!" Teriak kaget Riki menatap Bagas yang sedang duduk di atas motor di depan rumahnya.
"Lu ngapain njir?" Tanya Riki sambil jalan menghampiri Bagas yang masih anteng duduk diatas motornya.
"Jemput lu," balas Bagas sambil tersenyum kearah Riki.
"Gua ga minta di jemput lu ya anjing." Ucap Riki menatap Bagas heran.
Pagi-pagi udah bikin emosi aja.
"Ya ini kejutan, kalo gua kasi tau namanya bukan kejutan." Jawab Bagas pasang muka datar ke arah Riki.
Riki menatap Bagas ga percaya. Dia kenapa si? Kerasukan? Apa kebanyakan makan daun singkong jadi wuru?
Riki menghela nafas cape. "Lu kenapa si akhir-akhir ini kek buntutin gua terus?" Tanya Riki yang udah gereget banget sama Bagas, dia pan dari kemaren bingung kenapa Bagas sifatnya jadi 200° beda gini.
"Bukannya kemaren gua udah jelas ya?" Tanya Bagas menatap Riki membuat Riki mengerutkan alisnya bingung.
Apa? Gua lupaan.
"Apa?" Tanya Riki menatap Bagas bingung membuat Bagas menghela nafasnya.
"Gua suka sama lu," jawab Bagas ngingetin lagi ucapan dia kemaren.
Riki menatap Bagas datar. "Lu kalo mau becanda ga kek gini, ga lucu. Jangan bilang karena gua pernah suka sama Citra terus lu mau balas dendam sama gua pake cara beginian," jelas Riki menatap Bagas ga percaya.
"Gua suka sama lu gada sangkut pautnya sama si Citra, gua murni suka sama lu." Ucap Bagas serius menatap kedua mata Riki.
Riki bingung ges, dia juga punya otak dan otaknya juga bisa mikir. Kenapa bisa si Bagas suka sama gua? Apa yang Bagas suka dari gua? Kita berdua aja musuhan dari pertama masuk SMA gada temen-temenan sama sekali.
Ga masuk akal banget kalo dia suka gua karena musuhan, lebih ga masuk akalnya lagi gua cowo disukai sama cowo juga!
"Lu gila ya?" Tanya Riki yang masih ga percaya sama Bagas.
"Gua harus buktiin apasi ke lu supaya lu percaya, atau kita berdua perlu ngewe supaya lu percaya?" Jelas Bagas yang bikin Riki pengen jotos mulut Bagas yang haram.
"Ngewe ndasmu!" Riki menggeplak kepala Bagas.
"Ya lu ga percaya sama gua," jawab Bagas sambil ngelus-elus kepalanya yang abis kena geplakan Riki.
"Ya coba lu mikir kalo punya otak. Kita berdua musuhan dari kelas 10, masa tiba-tiba lu bilang suka sama gua!" Jelas Riki ngegas ke arah Bagas.
"Gada yang perlu dipikirin, gua suka sama lu aja udah lama dari sebelum gua putus sama Citra aja udah mulai suka." Ucap Bagas memperjelas yang bikin otak Riki mikir, padahal masih pagi-pagi.
"Kenapa bisa lu suka sama gua?" Tanya Riki gemas. Dia tu 100% normal, sekarang aja dia gada rasa sama si Bagas.
Mikirin Bagas aja kaga, kecuali akhir-akhir ini si Bagas nempel mulu jadi kepikiran Bagas aneh-aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAGAS
Teen Fictionstatus : END WARNING : contains stories about sex, harshwords, boyslove, 18+ etc. ___________________________________ Riki dan Bagas. Mereka berdua musuh bebuyutan dari kelas 10, entah apa alasan mereka musuhan. Setiap mereka bertemu tidak ada hari...
