49. Dimana Abdurrahman?

23 2 0
                                        

Tanpa disadari oleh banyak orang, Atika sudah sadar. Ia melihat keseliling, ia yakin bahwa ini bukan kamarnya. Setelah melihat banyak perabot dan bed yang ia tiduri, Atika merasa bahwa saat ini ia sedang dirumah sakit. Sedikit memutar ingatan sebelum ini, Atika hanya mengingat bahwa ia sedang mual muntah seperti biasanya, namun hari ini ia memang tidak nafsu makan hingga perutnya belum terisi makanan. Kemudian semuanya tiba-tiba gelap.

"Apa aku pingsan?"

Terdengar suara dari luar kamar, Atika mencoba mendengarkan lebih jelas.

"Aidin."

"Fatimah?" gumam Atika.

"Apakah Kak Atika sudah tau kondisi ini?"

"Kondisi apa?"

Hening beberapa detik hingga Atika tersadar bahwa saat ini sedang hamil, ia menutup mulut dan tanpa terasa meneteskan air mata. Dalam diam ia mencoba meredam tangisnya walau sangat sulit.

"Jadi Fatimah dan Aidin sudah tau bahwa aku hamil?"

Terdengar isak tangis dari luar kamar, Atika tau itu pasti suara Fatimah. "Aku takut."

"Kamu saja takut Fatimah, lalu bagaimana dengan aku?" monolog Atika.

Dilain sisi Fatimah yang sedang duduk bersama dengan Aidin diatas satu bangku namun dengan jarak yang cukup. Fatimah menunduk karena mengeluarkan air matanya, walau tak saling tatap mereka saling berhadapan. Fatimah sangat terlihat lemah.

"Aku takut Aidin, bagaimana membayangkan menjadi Kak Atika. Pasti sangat sulit," Fatimah sedikit menjeda kalimatnya karena menangis. "Suaminya sedang pergi, Aidin. Lalu Kak Atika sekarang hamil, a-aku aku.. aku pasti tidak akan kuat. A-aku aku..." Fatimah semakin histeris dengan tangisnya.

"Ssssssshhtt Fatimah, jangan begini..." suara Aidin terpotong oleh Fatimah.

"Bagaimana aku tidak begini? Lalu aku harus apa? Harus apa, Aidin?" Fatimah kembali menangis, Aidin sedikit kaget karena bentakan Fatimah. Namun laki-laki mencoba untuk tenang, untuk saat ini ia akan mengerti bahwa Fatimah sedang bingung.

Posisi Fatimah saat ini memang sulit, pada satu sisi ia merasa terbebani dengan menjadi pengganti Abdurrahman sebagai suami Atika untuk mencukupi segala kebutuhan Atika. Namun, disisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan Atika karena tidak tega dengan kakak iparnya. Belum juga ia harus mengurus masalah kafe. Dan jangan lupakan Bapaknya yang ingin dia segera menikah. Namun dari semua pikiran itu, Fatimah akan lebih fokus kepada Atika hingga Abdurrahman kembali.

"Menangislah Fatimah," Aidin menyerah. Ia akan membiarkan Fatimah melepaskan semua bebannya hingga tenang.

"Menangislah untuk saat ini, namun setelahnya aku harap kamu bisa kembali lagi menjadi Fatimah yang kuat. Saat ini, kamu sangat dibutuhkan oleh kakakmu. Jika kamu lemah, lalu bagaimana dengan kakakmu? Siapa yang akan menguatkan dia? Sedangkan kamu sendiri tau jika saat ini tidak ada Mas Abe disisi Kak Atika."

"Apa yang harus kamu lakukan?" Aidin menghela nafas, "kamu pasti sudah tau jawabannya, Fatimah."

Bagai sihir tangis Fatimah seketika mereda, hening beberapa saat ketika Fatimah melihat ketulusan dimata Aidin. Ia berpikir bahwa perkataan Aidin memang benar. Ia harus kuat.

Karena hening diantara Fatimah dan Aidin, suara tangis lain bisa terdengar samar. Keduanya terkejut, kali ini tatapan mereka sudah berbeda arti. Mereka tau jika itu sudah pasti tangis Atika. Sontak Fatimah dan Aidin segera masuk kedalam kamar inap Atika. Hal pertama yang terlihat adalah Atika yang duduk diatas bed rumah sakit sambil menangis bahkan ketika wanita itu melihat kedua orang tersebut masuk, Atika semakin tersedu-sedu.

"Kak Atika? Kak Atika sudah sadar?" Fatimah dengan rasa khawatir menghampiri Atika. Atika menyambut Fatimah dengan pelukan. Terjadilah aksi saling tangis diantara keduanya. Aidin menutup pintu, ia akan keluar untuk memberi ruang kepada Fatimah dan Atika

Laki-laki itu berjalan menjauhi ruang inap Atika, ia berniat untuk duduk ditaman saja. Ia cukup sesak melihat Fatimah yang lemah, selama ini dia selalu melihat perempuan itu selalu marah-marah. Aidin lupa bahwa sekuat-kuatnya perempuan pasti memiliki hati, dimana hati tersebut mejadi kelemahan seorang wanita. Aidin cukup senang, bukan karena melihat Fatimah sedih namun karena ia jadi tahu sedikit sisi Fatimah yang lain.

Keputusan untuk duduk ditaman sepertinya memang keputusan yang salah. Menghindari adik dan kakak ipar yang saling menangis, ia malah mendapatkan sepasang suami istri yang sedang saling dingin. Ya, Aidin melihat bahkan bisa mendengar pembicaraan Pak Kyai dan istrinya.

"Bapak sudah lihat sendiri bukan?"

"Atika hamil pak."

"Umi tau kalau hamil itu bukan perkara mudah."

"Apalagi tanpa suami."

Aidin bisa merasa bahwa Umi saat ini berbicara dengan menahan tangisan, walau tidak bisa melihat karena Pak Kyai dan Umi yang membelakangi dirinya namun Aidin yakin karena intonasi suara Umi.

"Tidak bisakah keputusan Bapak berubah?"

"Jika bukan karena Abdullah, tolong lakukan demi menantu kita. Umi yakin kalau Atika sangat menghormati keputusan Bapak, sampai saat ini tidak ada telepon masuk dari keluarga Atika. Padahal kalau menantu kita mau, dia bisa saja minta untuk dipulangkan. Tapi, Atika kita berbeda pak, dia memilih untuk bertahan dan menunggu kepulangan suaminya," kali ini Umi sudah lebih tenang.

Aidin melihat Umi menghadap Pak Kyai, begitu pula Pak Kyai dengan wajah dinginnya. "Tolong bawa Abdullah pulang, pak."

Aidin tahu bahwa tindakannya saat ini tidak sopan, ia memutuskan untuk mencari tempat lain. Namun belum sampai lima Langkah, panggilan Umi mengurungkannya.

"Aidin," Aidin menoleh. Ia melihat Umi dan Pak Kyai yang sudah berdiri dari tempat duduk taman. Mau tidak mau ia menghampiri keduanya sambil mengucap salam.

"Anu Umi, itu.. kak Atika sudah sadar," gugup Aidin.

Terlihat kelegaan diantara Bapak dan Umi, "alhamdulillah."

"Sekarang Atika sama Fatimah?" tanya Umi.

"Inggih Umi."

"Yasudah Umi mau kesana," tak menunggu jawaban wanita separuh baya tersebut berjalan menuju ruang inap Atika.

Aidin menjadi lebih gugup berhadapan dengan Pak Kyai, ia takut jika Pak Kyai salah paham dan mengira ia sedang menguping walaupun memang benar adanya.

"Aidin."

"Iya Pak Kyai?"

Aidin sedkit mendongak dari tundukannya sedari tadi karena panggilan Pak Kyai yang menggantung padahal ia sangat menanti kalimat selanjutnya.

"Kamu tau keberadaan Abdullah sekarang ada dimana?"

Aidin sangat terkejut, pasalnya Pak Kyai yang menyebabkan Abdurraahman pergi namun saat ini bertanya posisi Abdurrahman. Ia gugup setengah mati, namun dengan perlahan dia menjelaskan bahwa diminggu pertama masih ada kejelasan Abdurrahman namun setelahnya Abdurrahman benar-benar menghilang.

Pak Kyai hanya mengangguk, apapun yang dipikirkan laki-laki tersebut hanya beliau dan Allah yang tahu.


Bersambung...

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang