Hari demi hari terlewati menjadi bulan. Tidak terasa kehamilan Atika sudah memasuki bulan ke-sembilan, hanya tinggal menunggu hari ia akan segera bertemu dengan anaknya. Hari yang ia nantikan sekaligus yang ia resahkan.
Kini ia sudah menjadi orang yang begitu sibuk. Pagi hari ia mengajar di pondok pesantren hingga dhuhur kemudian ia akan pulang untuk membuat kue kering pesanan kafe Fatimah. Bahkan kue kering miliknya sudah mempunyai peminatnya sendiri hingga tergabung pada sosial media yang telah ia buat khusus lapak jualan. Tak jarang dia mendapatkan pesanan untuk beberapa acara membuat ia begitu sibuk. Namun dibalik kesibukannya dia selalu menyempatkan untuk tetap beribadah dan menyanjung anaknya seperti saat ini. Kini ibu muda itu sedang mengaji surat Yusuf untuk anaknya.
Atika masih belum tahu apa jenis kelamin anaknya, setiap ia periksa kandungan dengan sengaja ia tidak ingin mengetahui. Hal tersebut karena Atika akan tetap mensyukuri apapun jenis kelamin anaknya, jadi sama saja antara laki-laki ataupun perempuan.
Kehamilan Atika tidak rewel dan juga tidak membuat berat pada aktifitas Atika. Justru anaknya bergerak aktif ketika Atika sedang tiduran dan mengaji untuknya, berbeda ketika Atika ada kegiatan maka janinnya akan diam seakan mengerti kapan saja dia bisa bermain dengan ibunya.
Suara notifikasi dari ponsel Atika membuatnya harus berhenti dari ngaji, ia bangkit mengambil ponsel dari ranjang dan segera menjawab telepon dari seseorang.
"Assalamu'alaikum, Aidin."
Benar, penelepon itu adalah Aidin.
"Bagaimana?"
Mendengar jawaban Aidin membuat wanita itu menunduk dan setetes air mata pun turun.
"Terima kasih ya Aidin atas usahamu, terima kasih sekali lagi dan mohon maaf banyak merepotkan kamu selama ini. Mungkin ini yang terakhir, untuk kedepannya aku akan pasrah"
Atika mematikan telepon dari Aidin. Atika memang sudah ikhlas dengan semuanya, namun ia tetap berusaha untuk menemukan suaminya secara diam-diam. Selama ini ia telah bekerja sama dengan Aidin, karena Aidin juga sering keluar pondok sekaligus pernah menjadi teman Abdurrahman selama diluar pondok dulu. Namun hingga saat ini kabar tentang Abdurrahman belum pernah terdengar lagi.
Abi dan keluarga Atika menepati janjinya untuk tidak datang sebelum Atika melahirkan, hal itu sedikit membuat Atika tenang. Ia tak ingin masalah rumah tangganya justru membebani semua orang. Kini ia hanya perlu fokus kepada hari kelahiran anaknya.
Atika mengadahkan tangannya keatas, "Ya Allah, hamba serahkan semuanya kepada-Mu."
*****
"Astagfirullah Kak Atika, Kakakku yang paling cantik. Fatimah kan sudah bilang kalau kakak gak boleh capek-capek. Ini malah bikin kue. Itu dua anggota kakak ngapain kalau kakak tetep aja yang bikin? Kaaaakkk, kakak harusnya diem-diem aja tau. Perutnya udah gede kaya gitu, apa gak berat? Ayo du...." Cerewet Fatimah yang belum selesai telah dibungkam oleh Atika dengan suapan kue yang telah ia buat.
"Gimana? Enak?"
Walaupun muka Fatimah terlihat masam, namun ia tetap mengangguk karena jujur dengan rasa kue milik Atika.
"Kakak ih," Atika tertawa ringan.
"Kamu cerewet sih, ini kan sudah jadi hobi juga."
"Tapi kan gaboleh capek-capek," Atika meringis.
"Iya gak capek kok," Atika membawa setoples kue keluar dari dapur, "ayo nonton TV."
"Ayooooo," sambut Fatimah dengan riang.
Atika duduk dengan setoples kue yang telah ia bawa dalam pangkuannya, sedangkan Fatimah mulai menyalahkan televisi untuk mereka tonton. Fatimah selalu meluangkan waktu dirumah lebih banyak bersama Atika sejak kehamilan Atika memasuki usia 8 bulan. Ia sengaja mengatur jam kerjanya untuk bisa membagi dengan Atika, mengingat usia janin Atika yang mulai rawan untuk melahirkan. Bahkan Fatimah juga tidak pernah absen untuk menemani Atika pergi ke dokter.
"Hari ini mau nonton film apa nih kak?"
Atika menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab, "nonton acara TV aja dek."
"Oke deh," Fatimah hanya menurut karena memang stok film mereka sudah habis.
"Mau kue?"
"Mauuu," Atika menyuapkan kue pada mulut Fatimah.
Hingga keduanya larut dalam kartun yang mereka tonton hingga terdengar adzan dhuhur, bersamaan dengan kartun yang mereka tonton telah selesai dan berganti dengan acara berita.
"Yaaahhh habis," kecewa Fatimah.
"Ayo sholat," ajak Atika dengan bangkit terlebih dahulu. Atika berjalan kearah kamar mandi meninggalkan Fatimah yang masih duduk dengan posisi yang sama.
Fatimah mulai fokus pada berita di televisi yang menayangkan berita banjir pada sejumlah daerah, ia mulai mengingat jika beberapa hari ini memang hujan selalu turun dengan lebat.
"Kok belum bangun Fatimah?" Atika yang tiba-tiba datang mampu membuat Fatimah kaget namun ia masih fokus pada berita yang menjadi pusat perhatiannya.
"Kemarin malam hujan deras lagi ya kak?"
"Iya," dan tiba-tiba televisipun mati.
Fatimah melihat Atika dengan melongo, pasalnya ia sedang fokus melihat ke arah layar dan tiba-tiba televisi menjadi hitam.
"Sholat dulu yuk."
Kali ini Fatimah langsung bangkit dan menunaikan sholat dhuhur berjamaah dengan Atika didalam rumah.
Tepat setelah salam yang dipimpin oleh Fatimah, Atika merasakan nyeri pada jalan lahirnya hingga tak sadar ia meringis kesakitan yang juga diketahui oleh Fatimah.
"Kak? Udah mau lahir ya?" panik Fatimah.
"Ahhh, udah hilang sakitnya," Atika terlihat lega namun tidak membuat Fatimah ikut lega,
"Ayo ke rumah sakit aja kak," ajak Fatimah.
"HPL nya masih minggu depan, dek."
"Tapi udah sakit gitu"
"Ini udah gak sakit kok, ayo nonton TV lagi aja," Atika sengaja mengalihkan perhatian Fatimah karena melihat adik iparnya yang sudah mulai menangis.
"Beneran gamau ke dokter aja kak?"
Atika tersenyum lembut sebagai jawaban.
*****
Terdapat seorang laki-laki yang sedang mengejar tiket kereta yang sudah habis, ia terus memaksa membeli tiket pergi untuk malam ini namun yang ia dapat hanya tersisa tiket untuk berdiri. Ia tak mempermasalahkan hal tersebut, dalam pikirannya kini hanya ingin segera sampai rumah. Begitu mendengar kabar bahwa istrinya sedang hamil besar, dengan cepat ia ingin segera pulang. Namun karena sudah memasuki musim penghujan, ia baru bisa pulang hari ini.
Benar, dia adalah Abdurrahman.
"Semoga kamu masih mau menungguku, Atika."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
