24. Ar Rahman

199 21 2
                                        

"Ekhem."

Suara itu dari mulut Aidin yang sengaja menggoda mempelai pria, siapa lagi jika tidak lain adalah Abdurrahman. Mendengar deheman Aidin, Abdurrahman sontak mengalihkan pandangan dari istrinya menuju Aidin yang sedang mengarahkan kamera ponsel pada Abdurrahman.

"Nih masmu Fat, lagi curi-curi pandang keatas terus"

"Hus kamu itu Din, ke istri sendiri kok. Udah halal ini" sewot Abdurrahman, entah kenapa ia merasa telah memiliki Atika bahkan ia tak rela jika harus dilarang melihat kearah istrinya sendiri.

"Iya iya yang pengantin baru mah beda sama yang jomblo" balas Aidin dengan wajah memelas.

Dan diseberang sana, tepat sambungan video call Aidin berlangsung terdapat 2 orang perempuan yang tertawa. Tentu Ashila dan Fatimah yang tertawa, jika ditanya apa ekspresi Atika? Maka jawabnya adalah merona dan menunduk. Sangat karakter Atika sekali saat ia malu.

"Sudah sudah jangan bertengkar" Ashila menginterupsi kedua laki-laki itu melalui ponsel. "Abdurrahman tenang saja, sebentar lagi istrimu turun kok."

"Iya mas, kami tau kok kalo mas Abdullah udah gak sabar ketemu pacar halal" celetuk Fatimah yang dihadiahi gelak tawa Ashila dan Aidin yang diseberang ponsel.

"Iya mbak, cepet bawa bidadari buat laki-laki berstatus suami baru ini" jawab Aidin dengan tawa pada akhirannya.

Atika yang menjadi bahan perbincangan itu hanya mampu manahan senyum dan menyembunyikannya dengan menunduk, namun tak urung ia merasa senang jika Abdurrahman yang telah menjadi suaminya itu sangat menginginkan kehadirannya.

Dilain sisi Abdurrahman sendiri semakin menekuk dan membuat wajahnya sedatar mungkin kepada Aidin, bukan membawa Atika menemuinya segera malah membuat godaan yang tak ada hentinya.

"Sudah sudah jangan mengganggu pasangan bahagia ini" Abimana yang sedari tadi memperhatikan mereka merasa gemas sendiri, dan Atika sendiri sudah di tunggu oleh banyak tamu undangan. Bukan Abdurrahman saja.

"Aidin, cepat bilang ke Fatimah untuk segera membawa mempelai wanita turun dan menemui suaminya" kini pak Kyai mulai membuka suara.

Abdurrahman yang merasa menang karena telah di bela oleh 2 orang penting disini -bapaknya dan mertuanya- menunjukkan senyum miring pada Aidin. Lengkap sudah.

Aidin hanya terkikik kecil sambil menyorot wajah Abdurrahman yang songong pada ponselnya, Fatimah yang disambungan itu juga terkekeh.

"Sudah dengar kan Fat? Apa aku perlu bilang lagi?" tanya Aidin.

"Tidak perlu, aku masih bisa mendengar dengan baik dan melihat dengan baik pula mas Abdurrahman yang paling mendamba bidadarinya. Tenang saja kita akan turun, aku matikan sambungannya ya?" jawab Fatimah dari ponsel dan setelah Aidin mengatakan 'iya' sambungan video call itu terputus.

Atika memang tidak terdengar sama sekali suaranya di ponsel Aidin, karena memang Atika sangat pemalu dan Abdurrahman sangat tau akan hal itu. Namun entah mengapa saat sambungan terputus, Abdurrahman merasa kehilangan. Padahal sengaja Fatimah mematikan ponsel karena ingin membantu istrinya turun, mengingat hal itu membuat Abdurrahman tak sabar melihat Atika dengan rona merah di pipinya.

"Sabar kali mas, lagi dibawa kesini kok istrimu. Gak mungkin juga dibawa kabur" seketika seluruh orang yang berada didalam masjid itu tertawa karena guyonan Aidin, dan Abdurrahman hanya bisa tersenyum malu.

'Apa sekentara itu wajahku menanti istriku datang?' batin Abdurrahman.

Tak berselang lama, semua orang mengarah pada arah yang sama. Dipintu utama masjid, ada seorang bidadari datang dengan gaun cantik berwarna putih namun tertutup dan tak menunjukkan lekuk tubuh, terlihat sederhana namun sangat cantik dengan tata rias natural. Dikanan kirinya terdapat dayang-dayang yang juga cantik, hingga Aidin dan Harun tak sedikitpun melihat kearah lain.

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang