"Assalamu'alaikum" salam Abdurrahman kepada perempuan cantik didepannya.
Dengan gamis mocca dan khimar hitam membuat ia pantas bersama Abdurrahman yang menggunakan sarung putih dan baju koko mocca serta tak lupa peci hitam, mereka sudah seperti sepasang suami istri yang menggunakan baju couple.
Abdurrahman dibuat salah tingkah dengan tatapan Atika yang seakan menilai tampilannya, dan ketika gadis itu melihat wajah dari Abddurahman seketika tak mampu menahan pesonanya.
'Masyaallah, indahnya. Tapi kenapa aku sangat familiar dengan wajah ini? siapa dia?' batin Atika yang tak henti menatap Abdurrahman.
'Ternyata memang benar ia adalah Atika, calon istriku. Ya Allah semoga memang aku jodohnya' batin Abdurrahman bermunajat.
Tak sadar keduanya saling menatap, bahkan Aidin yang disana tak dihiraukan oleh mereka. Aidin yang merasa tak beres hanya bisa berdehem keras agar memulihkan kesadaran mereka.
"Ekhem, tundukkan pandangan"
Kedua insan itu terkejut dan begitu sadar mereka sama kompaknya mengucapkan istigfar, sungguh mereka merasa menyesal akan pesonan lawannya.
"Hmm kamu Atika bukan?" tanya Abdurrahman berusaha menghilanglan canggung diantara mereka.
Atika yang masih merasa malu karena kepergok menatap Abdurrahman itu hanya bisa menunduk dan menggangguk sebagai jawaban.
Abdurrahman juga sebenarnya masih malu, tapi ia tau jika Aidin memang sering seperti ini dan ia tak mau terlihat salah tingkah dihadapan Aidin karena bisa-bisa temannya itu akan terus meledeknya.
"Kamu tak mengingatku?" kali ini Abdurrahman ingin memastikan apakah calon istrinya ini masih mengenalinya? walau dengan penampilan yang baru.
Atika bingung harus menjawab apa, diapun sebenarnya bingung karena ia merasa familiar tapi entah sama seperti wajah siapa. Berakhir dia masih berwajah bingung dan kali ini sudah melihat wajah Abdurrahman berusaha menerawang namun nihil tak mendapat hasil, Abdurrahman yang menangkap raut itu berusaha mengerti.
"Kamu lupa? Jika aku perkenalkan namaku Abe atau Abdurrahman Dhiafakhri apakah kamu mengingatnya?"
"Abe? Abdurrahman Dhiafakhri?" Atika kembali bernostalgia akan setahun lalu, laki-laki yang menolongnya dan ternyata bertemu kembali guna memulangkan KTP serta berakhir dengan godaan saat dimasjid itulah yang mampu ia ingat. Dan ia kembali tersipu akan ingatan terakhirnya itu.
"Iya aku mengingatmu, maaf kamu sekarang sangat berbeda jadi aku sempat tak mengingatmu" akhirnya Atika mampu menjawab setelah berusaha menguasai diri agar tidak terlihat malu-malu.
"Beda? Beda yang seperti apa?" Abdurrahman sengaja memancing.
"Yaa beda aja, dulu kamu memakai pakaian yang tidak serapi ini" ucap Atika dengan menekan rasa malunya.
"Oh seperti itu, ku kira aku tambah tampan ternyata belum ya" goda Abdurrahman.
'Abi tolong anakmu' batin Atika dengan tak sadar menggigit bibirnya kedalam dan selalu menunduk.
Aidin yang masih disana hanya bisa melongo tak percaya akan godaan mantan bosnya pada calon istrinya, padahal sebelum ini lelaki itu sangat nampak gugup.
Entah sejak kapan Abdurrahman suka menggoda Atika, melihat perempuan itu malu-malu ada kesenangan tersendiri.
"Jika kamu sudah mengingatku, bagian mana yang bisa kamu ingat?"
Atika sangat tau maksud dari ucapan itu, namun berusaha profesional ia menjawab "semuanya."
"Termasuk pembicaraan kita untuk pertemuan ketiga? Tentang jodoh?" Abdurrahman semakin memperjelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
