Assalamu'alaikum.
Bismillah, Menjemput Up Sebelum Lebaran.
Warning!!! Area bertebaran typo.
Semoga cepat tamat T-T selamat membaca.
*****
"Selamat pagi."
Abdurrahman merasa hidupnya begitu berwarna dengan adanya istri disampingnya, Atika.
Seperti saat ini, saat ia membuka mata di awal hari selalu disambut oleh senyum manis milik Atika. Berakhir dengan Abdurrahman yang masih bermanja dengan sang istri, serasa tidak mau bangun. Padahal Atika sendiri sudah mandi sebelum ia membangunkan Abdurrahman, serta ia pula yang menyiapkan baju ibadah sholat shubuh untuk suaminya.
"Lima menit lagi," ucap Abdurrahman dengan meletakkan kepalanya pada pangkuan Atika, bukannya marah akan perilaku suaminya justru Atika tersenyum sambil membelai lembut rambut Abdurrahman.
"Shubuh tidak akan menunggu seseorang bangun, namun shubuh akan memberikan ganjaran yang begitu menggiurkan bagi para pengikutnya. Tentu hadiah itu jauh lebih indah dari istrimu ini suamiku," dengan gemas Atika mencium pipi Abdurrahman membuat sang pemilik tersenyum senang.
"Mas selalu suka pagi yang kau ciptakan ini, tuturan indahmu dan sapuhan tangan lembutmu mampu mengawali hari menjadi lebih berwarna bagi suamimu ini istriku," Abdurrahman bangkit dan mencuri satu ciuman bibir Atika sebelum ia berlari menuju kamar mandi.
Atika yang baru sadar dari keterkejutannya hanya tersenyum, bahkan kini ia merona dengan sangat merah.
Kini ia menuju ke arah balkon rumahnya bersama Abdurrahman, ia selalu suka dengan murotal sebelum adzan. Sudah 1 bulan dia melaksanakan hari tanpa Abinya dan artinya ia juga telah mengabdi pada Abdurrahman selama itu juga.
Atika tersenyum sambil menikmati hembusan angin yang menyapu pipinya yang tak tertutupi oleh hijab, ia mulai berpikir, 'Hidup bersama Abdurrahman tidaklah sulit, bahkan aku tak perlu menjadi orang lain untuk disukai oleh suamiku sendiri karena ia telah mencintaiku sebagai Atika. Akupun mencintainya, tentu karena Allah.'
Atika terkejut dengan tarikan pada lengannya hingga membuat wanita itu berbalik badan, saat itulah ia tau si pelaku adalah suaminya tercinta.
"Apakah mas pernah menegurmu untuk tidak berdiri disini tanpa baju hangat?" Abdurrahman memakaikan selimut pada bahu Atika hingga membalutnya kebelakang serta ia juga menggiring istrinya masuk ke dalam, tak lupa ia menutup pintu balkon.
Atika hanya tersenyum, ia tak merasa tersinggung dengan pertanyaan Abdurrahman yang terkesan menyindir. Karena ia tau saat ini Abdurrahman marah namun belum pernah ia di perlakukan kasar, justru ketika marah Abdurrahman akan menunjukkan perhatiannya.
"Pernah," Atika menjawab dengan santai.
"Beri tau mas jika suamimu ini lalai dalam tugasnya, sayang" Abdurrahman mendudukkan Atika pada pinggiran kasur.
"Tidak mas, adek pernah ditegur kok kalau ke balkon pada saat malam atau suasana dingin harus pake pakaian hangat. Tapi adek sengaja aja," dengan santai mengucapkan hal yang justru membuat Abdurrahman semakin mengerutkan dahinya.
"Adek sengaja mau sakit?"
"Bukan."
"Lah terus?"
"Adek sengaja biar di perhatikan sama mas, seperti saat ini."
Seketika hening, lalu tiba-tiba Abdurrahman yang mulai mengerti maksud dari Atika hanya tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
