04. Sadar

266 28 5
                                        

Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Abe, merasakan hal tersebut Abe berbalik dan ternyata seorang lelaki paruh baya.

"Oh shit" umpat Abe dengan kaget.

"Astagfirullah" kata seorang bapak paruh baya.

"Bapak siapa?" tanya Abe dengan wajah bingung.

"Seharusnya saya yang tanya kamu, kenapa bisa dari bawah jembatan?"

"Sa.. Saya dari sana tadi" jawab Abe dengan gugup sambil menunjuk ujung jembatan yang lain.

"Apa yang kamu lakukan dari belakang SPBU?" tanya bapak itu kembali dengan wajah mencurigai.

"Sa.. Saya dari ujung jembatan sana pak. Yang dari jalan raya itu, bukan dari belakang SPBU" bohong Abe.

Bapak itu tak terlihat percaya, justru menilai keseluruhan fisik Abe dari kepala hingga kaki.

"Kamu habis ngapain? Baju kayak berandalan, wajah babak belur, celana robek semua, rambut acak-acakan. Habis tawuran kamu?"

"Sa.. Saya it.. Ituu" kata Abe terbata.

'Sial kemana perginya Abe yang jantan? Kenapa jadi gugup gini sih' batin Abe.

"Sudah-sudah gausah kamu jawab, saya sudah tau jawabannya" ucap bapak tua itu memotong ucapan Abe.

"Ayo ikut saya" lanjutnya.

'Sial kenapa aku jadi kikuk gini sih? Punya ilmu apa orang tua ini? Pak Kyai aja gabisa bikin aku sampe kayak gini' batin Abe.

"Hei! ayo ikut saya, kok malah ngelamun" kata bapak itu lagi yang ternyata sudah berjalan 5 meter didepan dari posisi Abe berada.

Dan entah dari mana datangnya, kaki Abe melangkah mengikuti bapak paruh baya itu berjalan.

*****

Atika berjalan gontai menuju ke kamarnya, sungguh terasa lemas hingga pada akhirnya dia menjatuhkan diri diatas ranjang empuknya.

"Perjodohan ya? Artinya Atika mau nikah dong" gumamnya entah kepada siapa.

"Sebenarnya aku juga gapapa kalau semisal harus tinggal di desa, lagian disana juga aku bisa menjadi guru honorer yaa meskipun sangat jauh dari yang aku inginkan"

Atika memeluk guling kesayangannya dengan menghadap jendela yang tertutup, namun matanya terlihat jauh menerawang entah kemana.

"Hari ini begitu melelahkan, padahal hanya mengajar sebentar berbeda dengan kemarin yang full day. Tapi kenapa lebih lelah hari ini? Atau karena yang bekerja itu otak ya?" gumamnya lagi yang semakin mengeratkan pelukannya.

Sekali lagi Atika mereview apa saja yang sudah ia lalui seharian ini. Mulai dari mengajar, lalu dapat telepon dari Abi kalau harus pulang siang. Namun rencana gagal karena tidak ada bis, lalu ia sholat. Hingga dimana dia mendapatkan masalah dan alhamdulillah masih mendapat pertolongan.

Atika menghela nafas berat, dengan melepaskan guling dan tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya.

"Gimana nasib laki-laki penolong ku tadi ya?"

Eh!

Atika yang tersadar atas gumamannya langsung mendudukkan dirinya sambil memangku guling kesayangannya itu.

"Kok aku jadi kepikiran dia sih?" katanya sambil memukul ringan kepalanya.

"Tapi aku kan juga belum bilang terima kasih" katanya lagi sambil menerawang kedepan.

"Ahh ya sudahlah gausah dipikir, yang perlu kamu pikir itu perjodohan kamu"

Atika kembali tiduran sambil memeluk gulingnya lagi, terlihat dia melamun.

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang